Industri sepeda motor listrik tetap optimistis menatap 2026, meski dukungan subsidi pembelian dari pemerintah sudah tidak lagi diberikan. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menargetkan penjualan motor listrik dapat tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Sekretaris Jenderal Aismoli Hanggoro Ananta mengatakan, pada 2025 lalu penjualan sepeda motor listrik tercatat sekitar 55.000 unit. Angka tersebut memang turun dibandingkan 2024 yang berada di kisaran 70.000 unit, namun tren penurunan dinilai mulai melandai pada paruh kedua tahun. “Target kami tahun ini kenaikan sekitar 10 persen dari 2025. Itu dicapai tanpa subsidi, murni secara organik,” ujar Hanggoro di Jakarta, Jumat (30/1/2026). Motor listrik Honda hadir dengan fitur unggulan dan banderol hemat. Ia menjelaskan, penurunan penjualan pada awal 2025 sempat cukup tajam akibat absennya insentif fiskal. Namun seiring berjalannya waktu, pasar mulai menyesuaikan diri dan tingkat penurunan tidak sedalam sebelumnya. Menurut Hanggoro, pelaku industri sudah belajar dari pengalaman satu hingga dua tahun terakhir, termasuk bagaimana menjaga permintaan saat subsidi tidak lagi tersedia. Sejumlah produsen mulai mengandalkan kerja sama bisnis ke bisnis (B2B), memperluas segmen armada, hingga membuka peluang ekspor. “Teman-teman industri sudah banyak yang belajar. Ada yang fokus ke B2B, ada yang ekspor, ada juga yang memperkuat jaringan penjualan. Itu semua ikut menopang pasar,” kata dia. Hanggoro juga menilai, minat masyarakat terhadap sepeda motor listrik perlahan mulai tumbuh secara alami. Berdasarkan temuan internal Aismoli, sebagian konsumen kini tidak lagi menjadikan subsidi sebagai faktor utama dalam keputusan pembelian. Bahkan, kata dia, sempat terjadi fenomena menahan pembelian (hold buying) ketika publik masih berharap adanya kelanjutan subsidi. Setelah kepastian tidak adanya insentif semakin jelas, konsumen justru mulai kembali melakukan pembelian. “Beberapa konsumen menyampaikan, mereka ingin punya kendaraan listrik bukan karena subsidi, tapi karena memang kebutuhan dan manfaatnya,” ujarnya. Meski tanpa insentif pembelian, Aismoli berharap pemerintah tetap memberikan dukungan, terutama pada aspek nonfiskal seperti pengembangan infrastruktur dan kepastian regulasi. Menurut Hanggoro, keberlanjutan industri akan lebih terjaga jika ekosistem pendukungnya terus diperkuat. “Kalau ada insentif tentu disyukuri, tapi kalau tidak ada pun industri harus tetap berjalan. Target kami sekarang adalah tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang