Alva menunjukkan optimisme tinggi meski pasar kendaraan listrik nasional memasuki babak baru tanpa dukungan subsidi pemerintah di tahun 2025. Alih-alih melandai, angka penjualan merek motor listrik lokal ini justru diklaim mengalami tren positif seiring dengan meningkatnya kedewasaan pasar. Purbaja Pantja selaku CEO Alva mengungkapkan bahwa masa transisi dari tahun 2024 yang merupakan tahun terakhir penyaluran insentif menuju tahun 2025 telah berhasil dilalui dengan performa yang baik. Hal ini membuktikan bahwa ekosistem yang dibangun mulai menunjukkan kemandirian pasar. "Kalau dilihat dari penjualan kami secara keseluruhan dibandingkan dengan tahun 2024, Alva sebenarnya kalau dari segi jumlah unit yang kami jual itu penjualannya sebenarnya meningkat," kata Purbaja. Test ride Alva Cervo X Salah satu indikator kematangan pasar yang disoroti adalah pergeseran perilaku konsumen. Jika pada awal kemunculannya masyarakat cenderung ragu dan mewajibkan uji coba, kini kepercayaan terhadap durabilitas dan performa produk Alva sudah terbentuk secara alami. Purbaja mencatat bahwa banyak konsumen yang kini langsung melakukan transaksi tanpa merasa perlu mencoba unit terlebih dahulu. Hal ini menandakan edukasi mengenai motor listrik sudah terserap dengan baik oleh masyarakat luas. "Beberapa pengguna kami pun juga sekarang kalau kita lihat trennya itu sudah tidak melakukan test ride lagi untuk motor Alva. Kalau dulu itu pasti pengennya test ride dulu. Sekarang waktu mereka membeli, sudah tidak lagi (uji coba). Intinya adalah mereka sudah mengenal motor listrik," ujarnya. Pencapaian ini didukung oleh keberhasilan Alva menembus milestone produksi 10.000 unit pada November tahun lalu, di mana mayoritas unit yang terserap pasar berasal dari kategori premium seperti Alva One XP dan Cervo di rentang harga Rp 30 juta hingga Rp 40 jutaan. Dengan portofolio produk yang beragam, termasuk Alva N3 di kelas Rp 20 jutaan serta opsi sewa baterai yang fleksibel, Alva optimis mampu menjadikan motor listrik sebagai moda transportasi utama tanpa harus bergantung sepenuhnya pada bantuan fiskal pemerintah. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang