Penjualan motor listrik nasional tercatat menurun sepanjang 2025. Meski begitu, pasar kendaraan ramah lingkungan ini ternyata masih ditopang oleh segmen niaga atau fleet, khususnya dari industri transportasi online roda dua. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi, mengatakan bahwa tren pasar motor listrik kini bergeser dari konsumen individu ke skema Business to Business (B2B). Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara produsen motor listrik dan perusahaan ride hailing menjadi salah satu penggerak utama penjualan sepanjang tahun lalu. Ilustrasi perpres ojek online "(Penjualan) sekarang banyak dari APM (Agen Pemegang Merek) dengan B2B, dengan mungkin Gojek dan pengiriman barang, dan sebagainya," ujar Budi kepada Kompas.com, dikutip Kamis (8/1/2026). Menurut Budi, pergerakan pasar di segmen ini tidak hanya dinikmati oleh satu dua merek saja. Ia menilai, peningkatan penjualan relatif merata di sejumlah brand yang aktif bekerja sama dengan sektor transportasi daring. Selain dorongan dari skema B2B, Aismoli juga mencatat tumbuhnya minat terhadap motor listrik dengan mekanisme sewa baterai. Model bisnis ini dianggap membantu menekan harga jual unit kendaraan sehingga lebih mudah dijangkau konsumen. EVMOTO hadir dengan armada ECGO, menandai babak baru persaingan layanan ojek online dengan pendekatan ramah lingkungan dan efisiensi biaya. "Penjualan motor dinamis, misalnya ada yang juga sewa, seperti Polytron. Itu cukup banyak juga sewanya," ucap Budi. Ia menambahkan, karakter konsumen motor listrik kini semakin rasional dan pragmatis. Faktor kemudahan akses, fleksibilitas kepemilikan, hingga biaya awal yang lebih ringan menjadi pertimbangan utama, bukan lagi persoalan merek. "Yang paling mudah diakses oleh masyarakat tanpa melihat brand. Itu masyarakat tertarik, misalnya mungkin skema baterai sistem sewa, sehingga motornya mungkin jadi harganya murah," katanya. Puluhan ribu unit Smoot Motor Listrik sudah mengaspal di Indonesia Tak hanya itu, perkembangan ekosistem swap baterai juga dianggap berperan besar dalam meningkatkan kepercayaan pengguna. Kehadiran titik penukaran baterai di berbagai lokasi komersial membuat motor listrik semakin relevan untuk penggunaan harian, terutama bagi pekerja transportasi daring dengan mobilitas tinggi. Dengan kombinasi skema kerja sama B2B, penyewaan baterai, serta infrastruktur swap yang makin meluas, Aismoli menilai industri motor listrik masih memiliki ruang pertumbuhan. Polytron Fox 350 Resmi Meluncur "Kami sepakat tidak berharap lagi sama pemerintah, mau ada subsidi atau tidak, kami tetap jalan terus. (Kami) harus mandiri, mencari terobosan, supaya tetap eksis di masyarakat," ucap Budi. Secara total, penjualan motor listrik nasional pada 2025 tercatat turun 28,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data Kementerian Perhubungan melalui Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) menunjukkan penjualan sepanjang 2025 hanya mencapai 55.059 unit, turun dari 77.078 unit pada 2024. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang