Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mulai menjadi perhatian industri otomotif nasional. Kondisi ini dinilai dapat berdampak pada biaya produksi kendaraan hingga potensi kenaikan bunga kredit. Berdasarkan data perdagangan Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dollar AS. Angka tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Menanggapi kondisi tersebut, Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Bansar Maduma mengatakan, pihaknya masih terus memantau perkembangan nilai tukar sebelum mengambil keputusan terkait harga kendaraan. “Kita terus akan monitor pergerakan. Yang pastinya adalah seperti yang kami sampaikan, kami sebagai Toyota Indonesia, diler, distributor, kemudian manufacturer, dan juga supplier, ingin meminimalisir dampak ini,” ujar Bansar saat ditemui di Jakarta Pusat, Sabtu (16/5/2026). Menurut dia, Toyota berharap nilai tukar dollar dapat kembali stabil sehingga dampaknya terhadap industri otomotif tidak terlalu besar. “Jadi kita akan monitor terus nih. Ya mudah-mudahan memang nanti ke depannya dollar akan menurun, sehingga kita bisa meminimalisir dampak yang ada. Mudah-mudahan juga kalau misalkan turun terus ke depannya, ya tidak perlu (kenaikan harga),” kata Bansar. Booth Toyota di IIMS 2026 Meski begitu, Toyota belum dapat memastikan apakah pelemahan rupiah akan berujung pada penyesuaian harga jual kendaraan di Indonesia. Bansar menjelaskan, Toyota saat ini juga terus berdiskusi dengan berbagai pihak di rantai industri untuk mencari langkah efisiensi agar dampak pelemahan rupiah bisa ditekan. “Kita sebetulnya memang juga mencoba berdiskusi dengan semua pihak, semua stakeholder dalam bagaimana kita menyiapkan kendaraan, kita juga melakukan banyak efisiensi untuk bagaimana bisa menanggulangi kenaikan tersebut,” kata Bansar. “Karena itu, kita masih belum bisa sampaikan sekarang. Yang pasti itu menjadi tantangan kita bagaimana kita bisa minimalisir dampak yang terjadi di customer," lanjutnya. Pelemahan rupiah sendiri berpotensi memengaruhi industri otomotif karena masih ada sejumlah komponen kendaraan yang bergantung pada impor dan transaksi berbasis dollar AS. Selain itu, kondisi tersebut juga bisa berdampak pada biaya logistik hingga skema pembiayaan kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang