Toyota mengusulkan strategi baru untuk memperkuat daya saing industri otomotif Jepang di tengah tekanan yang semakin besar dari produsen mobil asal China, khususnya dalam segmen kendaraan listrik. Vice Chairman Toyota, Koji Sato, mengusulkan agar produsen otomotif Jepang mulai menggunakan standar yang sama untuk sejumlah komponen dasar kendaraan. Langkah tersebut diyakini dapat menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi rantai pasok, sekaligus mempercepat pengembangan teknologi. up kendaraan listrik berbasis baterai dari Toyota yang akan diproduksi dikenalkan kepada publik untuk pertama kalinya oleh Chief Executive TMC Akio Toyoda, Selasa (14/12/2021) InsideEVs melaporkan, usulan itu disampaikan Koji dalam pertemuan tahunan Toyota bersama para pemasok. Menurutnya, industri otomotif Jepang sedang menghadapi tantangan besar sehingga membutuhkan perubahan untuk mempertahankan daya saing di pasar global. "Kecuali ada perubahan, kita tidak akan bertahan hidup," kata dia dikutip Rabu (15/7/2026). Ancaman Mobil China Meski tidak secara langsung menyebut produsen otomotif China, pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya dominasi merek-merek China di berbagai pasar dunia. Di Eropa, misalnya, penjualan gabungan Geely Group, SAIC Motor, BYD, Chery, dan Leapmotor pada Mei 2026 mencapai 138.140 unit. Angka itu untuk pertama kalinya melampaui total penjualan gabungan Toyota, Suzuki, Honda, Nissan, Mazda, dan Mitsubishi yang tercatat sebanyak 130.424 unit. Tekanan juga dirasakan di pasar China. Pada semester pertama 2026, penjualan Toyota turun 17 persen, sedangkan Honda merosot hingga 35 persen. Penurunan tersebut terjadi seiring pesatnya pertumbuhan produsen mobil listrik lokal yang menawarkan teknologi berbasis perangkat lunak, kemampuan pengisian daya cepat, serta teknologi baterai yang lebih maju dengan harga kompetitif. Kondisi serupa mulai terlihat di sejumlah negara Asia Tenggara dan Australia. Kehadiran mobil listrik China dengan harga lebih terjangkau secara bertahap menggerus pangsa pasar produsen otomotif Jepang yang selama ini mendominasi kawasan. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Konsep Japan Standard Untuk menjawab tantangan itu, Sato mengusulkan konsep 'Japan Standard', yakni standardisasi sejumlah komponen yang tidak menjadi pembeda di mata konsumen, seperti baja, wiring harness, dan material plastik. Menurutnya, penyederhanaan komponen akan membantu menurunkan biaya produksi sekaligus mengurangi kompleksitas manufaktur. Dana yang dihemat kemudian dapat dialihkan untuk mengembangkan teknologi yang lebih menentukan daya saing kendaraan, seperti perangkat lunak, sistem bantuan pengemudi (ADAS), baterai dengan kemampuan pengisian cepat, hingga berbagai teknologi sistem penggerak. Salah satu contoh yang disampaikan Sato adalah wiring harness. Saat ini pemasok di Jepang memproduksi sekitar 70.000 varian komponen tersebut untuk berbagai model kendaraan. Menurutnya, pengurangan jumlah varian berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan biaya di seluruh rantai pasok. Meski demikian, penerapan konsep tersebut dinilai tidak mudah. Standardisasi komponen membutuhkan kesepakatan banyak produsen, pemasok, serta penyesuaian pada berbagai model kendaraan dan proses produksi. "Kita memiliki kesadaran yang kuat akan situasi krisis bahwa industri otomotif Jepang sedang berada dalam masa transisi besar-besaran. Saat inilah waktu yang tepat untuk terus berkembang dan berevolusi dalam menghadapi berbagai tantangan serta inisiatif reformasi industri otomotif secara keseluruhan," ujar Sato.