Rencana pemerintah mengubah skema pemberian insentif kendaraan listrik dengan mengaitkannya pada program mobil-motor nasional berbasis baterai mendapat tanggapan dari Toyota. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan, insentif sebaiknya tidak hanya dilihat dari sisi jenis teknologi kendaraan, melainkan sebagai upaya menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional. "Sebenarnya kita tak bicara terhadap hybrid atau BEV. Tetapi bicara lebih ke arah industri, bagaimana industri yang sudah ada puluhan tahun ini bisa terus berkembang," kata dia di sela gelaran GIIAS 2026, ICE BSD City, Tangerang belum lama ini. Veloz Hybrid EV Menjaga Investasi dan Ekspor Menurut dia, berbagai negara di Asia Tenggara masih memberikan dukungan kepada industri otomotif meski sektor tersebut telah lama berkembang. Ia mencontohkan Thailand yang memiliki industri otomotif berusia hampir 70 tahun, namun masih memberikan berbagai insentif. Hal serupa juga dilakukan Malaysia dan Filipina. "Filipina terakhir dengan safeguard. Apa pun yang diproduksi di lokal, baik ICE, hybrid maupun BEV, semuanya mendapatkan perlindungan," ujar Nandi. Nandi mengatakan, kebijakan yang mendukung industri diperlukan untuk menjaga investasi yang telah masuk ke Indonesia, termasuk keberlangsungan tenaga kerja di sektor otomotif. Menurut dia, industri otomotif saat ini telah menyerap sekitar 750.000 tenaga kerja sehingga keberlanjutannya perlu dijaga. Ekspor mobil Toyota "Yang sudah diinvestasikan ini bagaimana bisa terus berlanjut, bahkan berkembang," katanya. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, Indonesia juga memiliki peran sebagai basis produksi kendaraan ekspor Toyota. Nandi mengatakan, hingga saat ini ekspor kendaraan Toyota dari Indonesia ke sekitar 100 negara masih didominasi model bermesin konvensional dan hybrid. Bahkan, ekspor mobil hybrid dari Indonesia disebut meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu. negara tujuan ekspor kami masih fokus kepada ICE dan hybrid. Hybrid sekarang naik sekitar 40 persen dibanding tahun lalu," ujarnya. Karena itu, menurut Nandi, insentif yang diberikan pemerintah akan lebih efektif apabila diarahkan untuk memperkuat daya saing industri secara keseluruhan. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. "Jadi bukan masalah modelnya, tapi lebih kepada industrinya. Tapi kalau ada insentif untuk produknya atau modelnya, tentu lebih baik lagi," kata dia. Bocoran Insentif Sebelumnya, pemerintah memastikan skema insentif kendaraan listrik ke depan akan diarahkan kepada kendaraan yang masuk dalam kategori program mobil nasional dan motor nasional. Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan pemerintah sedang memfinalisasi insentif PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV), bukan hybrid. Besaran insentif tersebut masih dalam pembahasan dengan kisaran 40 persen hingga 100 persen.