PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) terus mengembangkan otomatisasi di fasilitas produksinya. Meski demikian, pabrikan asal Jepang tersebut belum sepenuhnya mengandalkan robot untuk merakit kendaraan. "Kami melakukan otomatisasi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan proses produksi," ujar Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Wi di Karawang, Jawa Barat (29/92/206). Ilustrasi pabrik Toyota di Karawang, Jawa Barat. Di pabrik Toyota Karawang, proses perakitan atau assembling masih banyak mengandalkan tenaga manusia. Sementara itu, penggunaan robot lebih banyak diterapkan pada proses welding atau pengelasan dan painting atau pengecatan. Menurut Toyota, proses assembling membutuhkan kecermatan dan ketelitian sehingga peran manusia masih dianggap penting. Karena itu, otomatisasi tidak serta-merta menggantikan seluruh pekerjaan yang sebelumnya dilakukan pekerja. Produksi Veloz Hybrid di Indonesia mencapai 15.737 unit hingga Agustus 2026, masih untuk pasar domestik di tengah SPK tembus 19.000 unit. Robot Berdampingan dengan Manusia Penggunaan robot di fasilitas produksi Toyota lebih diarahkan untuk membantu proses yang membutuhkan tingkat presisi, konsistensi, atau pekerjaan yang berulang. Di sisi lain, Toyota juga terus meningkatkan kemampuan pekerjanya agar dapat mengikuti perkembangan teknologi di industri otomotif. Karyawan dibekali berbagai keterampilan baru, termasuk pemrograman dan kompetensi di bidang teknologi. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. "Di saat yang sama, kami juga memastikan bahwa kemampuan dan kompetensi karyawan terus dikembangkan dengan memberikan keterampilan yang lebih relevan dengan kebutuhan saat ini, termasuk pemrograman dan kompetensi di bidang teknologi," ucap Nyoman. Pendekatan tersebut sejalan dengan filosofi Toyota, yakni "Make People before Make Product". Filosofi ini menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian penting sebelum perusahaan menghasilkan sebuah produk. SDM Disiapkan Hadapi Era Elektrifikasi Filosofi tersebut juga diterapkan ketika Toyota mulai memproduksi kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Menurut Nyoman, persiapan produksi kendaraan elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan fasilitas manufaktur. Toyota juga menyiapkan sumber daya manusia agar mampu menjalankan proses produksi dengan teknologi yang lebih baru. "Dengan filosofi ini, kami selalu mengedepankan People Development dalam kegiatan usaha. Khususnya dalam era elektrifikasi. Sebelum memulai produksi kendaraan elektrifikasi kami melakukan persiapan bukan hanya dari sisi teknologi dan fasilitas manufaktur, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM)," kata dia. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Selain meningkatkan kompetensi pekerja, Toyota juga menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan masing-masing karyawan. Salah satunya melalui penerapan karakuri, yakni alat bantu produksi yang dirancang untuk meringankan pekerjaan manusia. Dengan pendekatan tersebut, otomatisasi di pabrik Toyota tidak semata-mata ditujukan untuk menggantikan tenaga manusia. Robot digunakan untuk membantu pekerjaan tertentu, sementara manusia tetap memegang peran penting dalam proses yang membutuhkan ketelitian, keterampilan, dan pengambilan keputusan.