Astra Motor (TAM) mulai membuka peluang untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mobil listrik yang diproduksi di Indonesia. Langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah yang secara bertahap meningkatkan persentase komponen lokal kendaraan listrik. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, TKDN mobil listrik roda empat ditetapkan minimal 40 persen pada 2022-2026, kemudian naik menjadi 60 persen pada 2027-2029 dan 80 persen mulai 2030. Toyota New bZ4X produksi lokal resmi meluncur. Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Bansar Maduma mengatakan, Toyota akan melakukan studi untuk melihat peluang meningkatkan TKDN mobil listriknya. "Memang beberapa regulasi TKDN berbeda-beda, antara regulasi TKDN untuk BEV dan regulasi TKDN untuk kendaraan LCEV," ujar Bansar di Yogyakarta (15/9/2026). Menurut dia, Toyota berupaya mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah, baik untuk kendaraan hybrid maupun mobil listrik. "Kami selalu berusaha memenuhi aturan dari pemerintah. Seperti hybrid dan LCGC, kami mengikuti regulasi pemerintah karena perhitungannya agak berbeda," katanya. Baterai mobil listrik Toyota bZ4X Toyota Mulai Studi Saat ini, ketentuan TKDN untuk mobil listrik roda empat berada di level minimal 40 persen. Toyota menyebut bZ4X yang telah diproduksi secara lokal dengan skema completely knocked down (CKD) sudah memenuhi ketentuan tersebut. "Sedangkan BEV sendiri, TKDN-nya hingga tahun ini 40 persen. bZ4X yang CKD sudah bisa memenuhi aturan pemerintah tersebut," ujar Bansar. Meski sudah memenuhi batas minimum, Toyota tidak menutup kemungkinan meningkatkan kandungan lokal pada mobil listriknya. Baterai nikel Toyota "Ya, kami akan melakukan studi (meningkatkan TKDN mobil listrik)," kata Bansar. Rencana tersebut menjadi penting mengingat batas minimal TKDN mobil listrik akan meningkat menjadi 60 persen mulai 2027. Setelah itu, persentasenya kembali naik menjadi 80 persen mulai 2030. Dengan demikian, peningkatan TKDN tidak hanya berkaitan dengan proses perakitan kendaraan di dalam negeri, tetapi juga mendorong semakin banyak komponen yang diproduksi atau bersumber dari Indonesia. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Naikkan TKDN, Baterai Perlu Dirakit Lokal? Bansar belum merinci komponen apa saja yang akan dilokalkan Toyota untuk meningkatkan TKDN. Namun, studi yang dilakukan perusahaan akan menjadi salah satu tahap untuk menyesuaikan strategi Toyota dengan peningkatan target kandungan lokal yang telah ditetapkan pemerintah. Salah satu komponen penting yang berpotensi menjadi bagian dari peningkatan kandungan lokal adalah baterai. Toyota Indonesia Motor Manufacturing (TMMIN) sebelumnya telah memastikan bakal memakai baterai nikel untuk seluruh mobil listrik yang dipasarkan di Indonesia, mencakup model BEV (Battery Electric Vehicle) dan HEV (Hybrid Electric Vehicle). Toyota bZ4X dan Urban Cruiser di GIIAS 2025 Presiden Direktur PT TMMIN Nandi Julyanto, mengatakan, bahwa pemanfaatan nikel dalam negeri untuk industri baterai masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya, sebagian besar nikel Indonesia masih diekspor untuk kemudian diolah kembali menjadi komponen baterai di luar negeri. “Mining sudah ada di Indonesia, assembling baterai juga sudah ada. Tapi untuk ke hulunya masih proses. Banyak yang masih diekspor, lalu masuk lagi dalam bentuk komponen,” ujar Nandi di Jakarta, beberapa waktu lalu.