Selain performa dan kenyamanan berkendara, konsumsi bahan bakar menjadi salah satu hal yang menarik untuk diketahui dari Toyota Veloz Hybrid. Saya mewakili redaksi KOMPAS.com, melakukan pengujian menggunakan Toyota Veloz Q Modellista non-TSS dengan rute Menara Kompas, Jakarta Selatan menuju BSD dan kembali ke Jakarta Selatan. Selama perjalanan, mobil diisi tiga orang dengan bobot rata-rata sekitar 70 kilogram (kg) per orang. Seluruh fitur kendaraan digunakan secara normal, termasuk AC, tanpa menerapkan gaya berkendara khusus atau eco driving. Toyota Veloz Hybrid Hasilnya, setelah menempuh jarak 97,1 kilometer, panel instrumen mencatat konsumsi bahan bakar rata-rata 23,8 kilometer per liter (kpl). Konsumsi BBM Angka 23,8 kpl tersebut merupakan hasil yang tercatat pada komputer perjalanan atau MID selama pengujian. Dengan demikian, secara sederhana mobil membutuhkan sekitar satu liter bahan bakar untuk menempuh jarak 23,8 kilometer berdasarkan perhitungan komputer kendaraan. Hasil tersebut cukup menarik mengingat pengujian dilakukan dengan tiga orang penumpang dan seluruh fitur digunakan sebagaimana pemakaian sehari-hari. Namun, angka pada MID bukan hasil pengukuran dengan metode isi penuh tangki atau penghitungan konsumsi berdasarkan jumlah bahan bakar yang benar-benar terpakai. Karena itu, hasil aktual dapat berbeda. Konsumsi bahan bakar juga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi lalu lintas, kecepatan, karakter rute, gaya mengemudi, penggunaan AC, hingga beban kendaraan. Konsumsi BBM Veloz Hybrid Peran Sistem Hybrid Efisiensi tersebut tak lepas dari sistem hybrid yang digunakan Veloz. Mobil ini mengandalkan mesin bensin 1.500 cc berkode 2NR-VEX yang bekerja bersama Toyota Hybrid System (THS). Dalam kondisi tertentu, motor listrik dapat mengambil alih penggerak kendaraan. Ketika indikator EV aktif, mobil bisa bergerak menggunakan tenaga listrik sehingga mesin bensin tidak perlu terus bekerja. Kondisi tersebut terutama dapat terjadi ketika mobil mulai bergerak atau melaju dengan beban ringan. Motor listrik memberikan respons tenaga secara langsung sekaligus membantu mengurangi kerja mesin bensin. Ketika membutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin akan kembali bekerja. Sistem juga mengatur pengisian baterai sesuai kondisi kendaraan sehingga pengemudi tidak perlu melakukan pengoperasian khusus. Meski demikian, hasil tersebut tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk setiap penggunaan. Rute, kondisi lalu lintas, jumlah penumpang, hingga gaya berkendara dapat membuat konsumsi bahan bakar berbeda.