PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih melakukan kajian untuk memenuhi target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mobil listrik yang akan naik menjadi 60 persen mulai 2027. Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya mengatakan, Toyota masih melihat berbagai aspek yang diperlukan agar ketentuan tersebut dapat dipenuhi. “Kami masih terus melakukan kajian terkait target tersebut,” ujar Nyoman di Karawang, Selasa (29/9/2026). Pabrik Toyota di Karawang Menurut dia, kajian tersebut juga dilakukan dengan melibatkan pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Toyota ingin memastikan kesiapan manufaktur dan rantai pasok sebelum memenuhi target TKDN yang lebih tinggi. “Termasuk berdiskusi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain, serta melihat kesiapan dan berbagai aspek yang diperlukan untuk dapat memenuhinya,” kata dia. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, TKDN mobil listrik roda empat ditetapkan minimal 40 persen pada periode 2022-2026. Toyota bZ4X facelift Ketentuan tersebut kemudian meningkat menjadi minimal 60 persen pada 2027-2029 dan 80 persen mulai 2030. Saat ini, Toyota menyebut mobil listrik bZ4X yang telah diproduksi secara lokal dengan skema completely knocked down (CKD) sudah memenuhi ketentuan TKDN minimal 40 persen. Toyota Siapkan Rantai Pasok Baterai Lokal Meski telah memenuhi ketentuan yang berlaku saat ini, Toyota tidak menutup kemungkinan meningkatkan kandungan lokal pada kendaraan listriknya. Salah satu langkah yang disiapkan TMMIN adalah memperdalam lokalisasi komponen baterai kendaraan elektrifikasi. Ilustrasi pabrik assembly baterai mobil listrik Toyota Pada April 2026, TMMIN mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Dalam kerja sama tersebut, TMMIN menyiapkan investasi Rp 1,3 triliun untuk memperkuat ekosistem kendaraan elektrifikasi, termasuk rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir. TMMIN saat ini telah memiliki lini produksi battery pack di Karawang untuk kendaraan elektrifikasi Toyota, seperti Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV. Ilustrasi baterai nikel Toyota Melalui kerja sama dengan CATL, Toyota juga menargetkan pengembangan kemampuan produksi hingga baterai sel dan modul yang sebelumnya masih diimpor. Langkah tersebut berpotensi memperkuat kandungan lokal pada kendaraan elektrifikasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap komponen impor. Target TKDN 60 Persen Mulai Berlaku 2027 Bagi Toyota, peningkatan TKDN tidak hanya berkaitan dengan produksi kendaraan, tetapi juga kesiapan rantai pasok dan kemampuan industri komponen di dalam negeri. Karena itu, TMMIN masih melakukan pembahasan dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melihat kesiapan berbagai aspek yang dibutuhkan sebelum target TKDN 60 persen mulai berlaku pada 2027. Presiden Direktur PT TMMIN Nandi Julyanto dalam Public Annoucement, HEV Battery Deeper Localization TMMIN and CATL di Jakarta, Senin (20/4/2026) Pendalaman produksi baterai menjadi salah satu bagian penting dari strategi tersebut. TMMIN menyatakan, melalui kolaborasi dengan CATL, komponen sel dan modul baterai yang saat ini masih diimpor nantinya ditargetkan dapat diproduksi dengan sumber daya manusia Indonesia. Dengan demikian, pengembangan rantai pasok baterai menjadi salah satu langkah Toyota dalam meningkatkan kemampuan manufaktur kendaraan elektrifikasi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi peningkatan persyaratan TKDN pada tahun-tahun mendatang.