Mantan Presiden sekaligus Chairman Toyota Motor Corporation (TMC), Hiroshi Okuda, meninggal dunia pada usia 93 tahun. Okuda dikenal sebagai salah satu sosok yang mendorong perubahan besar di tubuh Toyota pada akhir 1990-an. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan mempercepat ekspansi global sekaligus mengambil langkah berani dalam mengembangkan kendaraan hybrid. Kabar meninggalnya Okuda dilaporkan Kyodo News pada Rabu (12/8/2026), namun pihak Toyota belum memberikan keterangan resmi. Pabrik Toyota yang ada di wilayah Durban, Afrika Selatan. Bawa Toyota Keluar dari Masa Sulit Okuda menjabat sebagai Presiden Toyota pada 1995. Ia menjadi orang pertama di luar keluarga pendiri yang menduduki posisi tersebut dalam hampir tiga dekade. Saat itu, Toyota sedang menghadapi tekanan akibat penurunan laba dan pangsa pasar domestik. Okuda kemudian mendorong perusahaan untuk bergerak lebih agresif, terutama melalui ekspansi ke luar Jepang. Di bawah kepemimpinannya, Toyota memperluas produksi di Amerika Serikat dan mulai membangun fasilitas manufaktur di Perancis. Perusahaan juga mengambil keputusan yang cukup besar dengan menutup salah satu pabriknya di Jepang untuk pertama kalinya. Strategi tersebut merupakan bagian dari 2005 Vision, sebuah rencana untuk mempercepat pertumbuhan Toyota sekaligus mengubah citra perusahaan yang dinilai terlalu konservatif. Namun, langkah Okuda juga menuai kritik. Ekspansi yang terlalu cepat dan kebijakan pemangkasan biaya dinilai turut menyebabkan persoalan kualitas serta kelebihan kapasitas yang muncul pada periode berikutnya. Di internal Toyota, Okuda dikenal sebagai sosok yang tegas, berani mengambil risiko, dan tidak ragu mengambil keputusan. Ia berupaya mencegah apa yang disebutnya sebagai 'big company disease', yakni sikap puas diri dan lambannya pengambilan keputusan yang kerap muncul ketika perusahaan semakin besar. Toyota Prius Prime menjadi andalan di segmen Plug-in Hybrid, segera dijual akhir 2019 ini. Dorong Pengembangan Mobil Hybrid Salah satu keputusan penting Okuda adalah dukungannya terhadap pengembangan teknologi hybrid Toyota. Ketika teknologi tersebut masih belum populer, Toyota memperkenalkan Prius generasi pertama di Jepang pada 1997. Model tersebut menjadi salah satu langkah awal Toyota dalam mengembangkan kendaraan dengan konsumsi bahan bakar lebih rendah dan rendah emisi. Prius kemudian berkembang menjadi model global dan membuka jalan bagi penerapan teknologi hybrid pada berbagai produk Toyota. Strategi tersebut terbukti menjadi salah satu kekuatan Toyota dalam menghadapi perubahan industri otomotif. Teknologi hybrid kini tidak hanya digunakan pada Prius, tetapi telah diterapkan pada berbagai model Toyota di sejumlah pasar. Selain hybrid, Okuda juga mendorong pengembangan model sport utility vehicle (SUV) seperti RAV4. Model tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu produk penting Toyota di pasar global. Berani Ambil Risiko Di luar strategi bisnis, Okuda juga dikenal memiliki karakter yang berbeda dari banyak eksekutif Jepang pada masanya. Ia bertubuh tinggi, berbicara secara blak-blakan, dan dikenal berani mengambil risiko. Toyota bakal bangun pabrik perakitan baru di Meksiko Sebagai Presiden Toyota, ia memainkan peran di balik layar dalam meredakan ketegangan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat. Saat itu, industri otomotif Jepang menghadapi ancaman tarif hingga 100 persen terhadap ekspor mobil mewah ke Amerika Serikat. Okuda kemudian menyerahkan posisi presiden kepada Fujio Cho pada 1999 dan beralih menjadi Chairman Toyota. Ia menduduki posisi tersebut hingga 2006 sebelum menjadi penasihat senior dan anggota dewan. Okuda meninggalkan jajaran dewan Toyota pada 2009 sebagai bagian dari perubahan struktur manajemen. Meski demikian, pengaruhnya terhadap arah Toyota tetap terasa bahkan setelah tidak lagi memegang jabatan formal di perusahaan.