Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, termasuk beberapa waktu belakangan, termasuk ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), membuat sebagian masyarakat menahan pengeluaran besar seperti membeli mobil. Chief Economist Josua Pardede dari Permata Bank mengatakan, dalam kondisi ekonomi global yang tidak pasti, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. “Ketika situasi global tidak pasti, kecenderungannya orang menahan uang. Bahkan sebagian memilih membeli emas,” ujar Josua dalam gelaran Media Iftar Toyota di Jakarta, Jumat (6/3/2026). Ilustrasi penjualan mobil Menurut dia, kondisi tersebut turut memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, khususnya untuk pembelian barang bernilai besar seperti kendaraan. Belanja untuk mobil biasanya menjadi salah satu pengeluaran yang ditunda ketika tingkat ketidakpastian meningkat. Josua menjelaskan, fenomena ini juga berkaitan dengan tekanan daya beli kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan pendapatan kelompok ini dinilai tidak sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan harga mobil di pasar. “Pendapatan kelas menengah rata-rata naik sekitar 3,5 persen per tahun, sementara harga mobil bisa meningkat sekitar 5 sampai 7 persen per tahun,” kata dia. Ketidakseimbangan tersebut membuat konsumen menjadi lebih rasional dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan. Jika sebelumnya mobil sering dibeli karena faktor kebanggaan atau prestise, kini konsumen lebih mempertimbangkan kemampuan finansial. Chief Economist Josua Pardede dari Permata Bank dalam gelaran Media Iftar Toyota di Jakarta, Jumat (6/3/2026). “Masyarakat sekarang lebih melihat keamanan dompetnya. Mereka menghitung apakah cicilan kredit masih sanggup dibayar atau tidak,” ujar Josua. Di sisi lain, ia menilai kondisi ekonomi domestik sebenarnya mulai menunjukkan tanda perbaikan, meski belum sepenuhnya pulih. Josua mengibaratkan perekonomian Indonesia seperti mobil yang mesinnya sudah hidup, tetapi belum sepenuhnya melaju kencang. “Mesinnya sudah nyala, tapi belum terlalu digas,” kata dia. Menurut Josua, inflasi yang masih relatif terkendali menjadi salah satu indikator stabilitas ekonomi tetap terjaga. Seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi, penjualan mobil nasional juga diperkirakan akan mulai meningkat secara bertahap. Josua memperkirakan penjualan mobil nasional tahun ini dapat mencapai sekitar 821.000 hingga 825.000 unit, meningkat dibandingkan realisasi tahun lalu yang berada di kisaran 803.000 unit. Meski demikian, ia menilai pemulihan pasar otomotif kemungkinan tidak akan berlangsung cepat. “Perbaikannya mungkin bertahap. Tidak langsung melaju kencang karena kita masih di tikungan,” kata Josua. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang