Masyarakat di kelas menengah banyak yang menahan pengeluaran khususnya untuk membeli mobil. Tidak sedikit yang justru lebih memilih untuk membeli emas.Penurunan pendapatan kelas menengah mempengaruhi penjualan mobil dalam negeri. Banyak yang menahan pembelian mobil baru. Terlebih di situasi global yang tak menentu seperti sekarang, kelas menengah makin ketat memperhitungkan pengeluarannya untuk membeli mobil. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkap, bahkan kini ada kecenderungan turun kelas. Mereka yang biasanya membeli mobil, justru lebih memilih menginvestasikan uangnya untuk membeli emas."Pada saat situasi global tidak pasti, justru orang lagi nahan duit karena kecenderungannya saat ini beli emas jadi ini yang jadi salah satu pertimbangan selain belanja otomotif atau properti dan ada kecenderungan karena harga emasnya naik terus," urai Josua.Josua mengungkap hal itu terungkap dari data Bank Indonesia yang menunjukkan belanja masyarakat tertahan karena pendapatan kelas menengah turun. Kalaupun membeli mobil, opsinya bukan lah mobil baru melainkan mobil bekas."Kalau kita bilang downgrading ya karena mungkin fenomena yang terjadi juga, kelas menengah pendapatan tidak diimbangi dengan harga mobil naik terus akhirnya turun kelas, yang tadinya dia beli mobil baru sekarang beli mobil bekas," tutur Josua.Josua menjabarkan, pendapatan konsumen di kelas menengah ini naik tak signifikan. Kenaikan pendapatan itu tak berbanding lurus dengan harga mobil yang justru lebih tinggi. Kenaikan rata-rata pendapatan kelas menengah, kata Josua, sekitar 3,5 persen sementara harga mobil naik 5-7 persen."Jadi memang masyarakat ini sekarang datang ke showroom bukan hanya bertanya mobilnya bagus atau nggak dia menghitung juga cicilan akan ke cicilannya nih keluar juga atau nggak karena mengikuti kondisi keluarganya," pungkas Josua.