Honda Jazz dikenal sebagai hatchback yang punya reputasi bandel dan nyaman dipakai harian. Namun, seiring usia kendaraan yang sudah tidak muda lagi, beberapa masalah mulai muncul, mulai dari overheating hingga karakter transmisi otomatisnya yang berbeda dibanding generasi terbaru. Iwan, pemilik bengkel spesialis Honda Iwan Motors Solo, mengatakan sebenarnya Jazz bukan mobil yang penyakit bawaannya gampang overheating. “Tapi memang ada beberapa kasus Jazz kena masalah overheating, ini bukan karena desainnya, tapi karena perawatan pendinginan yang mulai diabaikan,” ucap Iwan kepada Kompas.com, belum lama ini. Overheat Menurut Iwan, ada beberapa faktor yang menyebabkan Honda Jazz mengalami overheating. Salah satunya radiator yang mulai kotor dan pampat akibat endapan kerak maupun karat. Ilustrasi Honda Jazz generasi kedua “Endapan kerak atau karat bikin sirkulasi air pendingin tersumbat, sehingga pendinginan menjadi tidak optimal, akhirnya air radiator mendidih dan terjadi overheating,” ucap Iwan. Selain radiator, usia kendaraan yang tak lagi muda juga membuat beberapa komponen kelistrikan mulai bermasalah, terutama pada sistem kipas radiator dan AC. “Kipas yang lemah atau berputar tidak semestinya, akan membuat pendinginan kurang optimal, dan akhirnya bikin overheating,” ucap Iwan. Ia menjelaskan, thermostat yang bertugas mengatur aliran air radiator juga bisa rusak atau macet seiring pemakaian. Begitu pula water pump yang mulai melemah sehingga sirkulasi air pendingin menjadi lambat. Tak hanya itu, selang radiator yang retak atau mengalami kebocoran halus juga bisa membuat air pendingin berkurang secara perlahan. “Selang radiator retak atau bocor halus, juga bikin air pendingin berkurang, lama-lama bisa bikin habis dan memicu overheating,” ucap Iwan. AC Menurut Iwan, pemilik Jazz juga perlu memperhatikan kebersihan kondensor AC. Sebab, kondensor yang kotor dapat menghambat aliran udara menuju radiator. Honda Jazz bekas “Bikin udara dari arah depan ke radiator terhalang, jadi pendinginan kurang maksimal, itu juga bisa memicu overthinking,” ucap Iwan. Meski demikian, Iwan menegaskan Honda Jazz tetap tergolong mobil yang minim masalah overheating apabila sistem pendinginnya dirawat dengan benar, menggunakan coolant, serta rutin menjaga kebersihan kondensor. Di sisi lain, Iwan juga menilai untuk Honda Jazz generasi kedua masih menarik untuk dilirik di pasar mobil bekas, terutama karena karakter transmisi otomatis konvensional yang digunakan. “Pasalnya, pada Jazz generasi kedua dibekali transmisi automatic transmission (AT) konvensional, berdasarkan pengalaman di lapangan secara keseluruhan AT konvensional masih punya poin lebih dibandingkan CVT,” ucap Iwan. Menurut Iwan, transmisi AT konvensional pada Jazz generasi kedua memberikan karakter performa yang lebih responsif dibanding CVT. “Kelebihannya tenaga lebih responsif, karena perpindahan rasio percepatannya masih bisa dirasakan, dari 1 ke 2 dan seterusnya, sehingga memberikan kesan lebih galak daripada generasi lainnya,” ucap Iwan. Selain responsif, Iwan mengatakan biaya perawatan Jazz generasi kedua juga relatif lebih murah karena komponen transmisinya masih mudah diperbaiki. “Jarang rewel, dan sekalipun rusak, biaya perbaikan jauh lebih murah karena tersedia komponen sampai ke bagian yang terkecil, onderdilnya itu bisa dibeli ecer, tidak harus ganti banyak,” ucap Iwan. Namun, transmisi AT konvensional tersebut juga memiliki kekurangan dibanding CVT, terutama dari sisi konsumsi BBM dan kenyamanan berkendara. “BBM lebih boros jika dibandingkan yang CVT, serta perpindahan gigi terasa kasar, karena ada entakan di setiap percepatan yang dilakukan, bagi konsumen yang menyukai kenyamanan ini menjadi poin kekurangannya,” ucap Iwan. Dengan karakter mesin yang masih responsif serta biaya perawatan yang relatif terjangkau, Honda Jazz bekas tetap menjadi pilihan menarik di pasar mobil second. Namun, calon konsumen tetap perlu memperhatikan kondisi sistem pendingin dan transmisi agar terhindar dari potensi masalah di kemudian hari. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang