Motor listrik seperti Indomobil Emotor Sprinto punya keunggulan dari sisi kehematan untuk pemakaian harian. Biaya cas murah, perawatannya juga cenderung minim. Tapi bagaimana kalau diadu dengan motor konvensional yang terkenal paling irit yakni Honda BeAT? Di atas kertas, BeAT mengandalkan mesin 110 cc yang menghasilkan tenaga 8,85 TK pada 7.500 rpm dan torsi 9,2 Nm pada 5.500 rpm. Di kelas motor bensin, reputasi keiritan mesin eSP milik Honda ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun, jika diadu langsung dengan efisiensi daya listrik murni berdasarkan pengujian riil di rute yang sama, siapakah yang keluar sebagai pemenang dari sisi penghematan? Indomobil Emotor Sprinto Berdasarkan catatan hasil pengetesan saya menggunakan metode full to full dengan rute komuter Bogor–Jakarta PP, Honda BeAT memang tampil sangat unggul dari segi efisiensi untuk ukuran motor bensin. Motor ini mampu mencatat angka konsumsi bahan bakar yang fantastis, yakni 67 km per liter. Dengan kapasitas tangki sebesar 4,2 liter dan mengacu pada harga Pertamax saat ini yang berada di angka Rp 12.300 per liter, biaya untuk mengisi tangki BeAT Street hingga penuh adalah sebesar Rp 51.240. Artinya, dalam sekali isi penuh, BeAT Street secara teoretis bisa jalan hingga 281,4 kilometer. Jika kita bagi ke dalam pengeluaran harian, biaya per kilometer dari BeAT Street ini ketemu di angka Rp 183,5 per kilometer. Sekarang kita bandingkan dengan data pengujian riil konsumsi daya listrik Sprinto. Untuk rute komuter harian sejauh 62 kilometer meliputi lintas wilayah Bogor–Petukangan–Palmerah, motor listrik dengan baterai Lithium 2,45 kWh ini menghabiskan daya total sebesar 1,44 kWh. Jika disetarakan dengan tarif listrik PLN harian berada di angka Rp 1.444,70 per kWh, maka pengeluaran token listrik saya untuk jarak 62 km tersebut hanya Rp 2.089 sekali jalan. Jika dihitung secara rinci, biaya per kilometer dari Sprinto untuk rute kombinasi ini hanya berada di angka Rp 33,7 per kilometer. Meskipun Honda BeAT sudah mencatatkan angka konsumsi BBM yang sangat impresif di angka 67 km per liter, posisi motor listrik dalam hal efisiensi pengeluaran kas harian murni tetap tidak tertandingi. Untuk menempuh jarak rute harian saya sejauh 62 km, saya harus mengeluarkan uang Rp 11.377 untuk bensin BeAT. Sedangkan dengan Sprinto, hanya keluar uang Rp 2.089 saja. Artinya, dari sisi pengeluaran biaya energi harian, Sprinto terbukti masih 5,4 kali lipat lebih murah daripada skutik bensin yang relatif irit sekalipun. Kembali lagi, ulasan ini harus kita lihat secara adil dari sudut pandang operasional harian. Keunggulan mutlak Sprinto ada di biaya energi harian yang luar biasa murah, bahkan bisa Rp 0 kalau rajin memanfaatkan fasilitas fast charging gratis di diler Indomobil. Namun, minusnya ada di manajemen waktu pengisian daya karena baterai tidak bisa diisi instan. Kalau saya lupa mengecas semalaman di rumah atau di kantor, harus rela menunggu proses charging yang memakan waktu lama. Sementara untuk BeAT, meskipun biaya per kilometernya lebih mahal dibanding motor listrik, skutik ini menang telak di sektor kepraktisan ekosistem. Dengan tangki penuh saya bisa berkendara hampir 300 km tanpa cemas, dan kalau bensin habis saya tinggal mampir ke SPBU mana saja, mengantre 3 menit, lalu motor bisa langsung dipacu kembali tanpa drama waktu tunggu. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang