Salah satu keunggulan utama dari sepeda motor listrik yang beredar di pasaran saat ini adalah kepraktisannya. Pengendara cukup memutar selongsong gas tanpa harus memikirkan perpindahan gigi transmisi maupun pengoperasian kopling manual. Namun, pabrikan raksasa asal Jepang, Honda, tampaknya memiliki pandangan lain. Dikutip dari Australian Motor Cycle News, Honda baru saja mendaftarkan paten yang justru mengembalikan sensasi kerumitan mekanis tersebut ke motor listrik motocross mereka, yakni CR Electric Proto. Langkah ini diambil dengan menambahkan tuas kopling dan komponen flywheel elektronik. Tujuannya bukan untuk membuat motor menjadi tidak efisien, melainkan demi meningkatkan kontrol performa dan memberikan sensasi berkendara yang lebih presisi bagi para pebalap di lintasan kompetisi. Paten kopling dan flywheel palsu di motor Honda Replika Elektronik Sebelumnya, Honda memang sudah menerapkan sistem kopling dan flywheel konvensional (mekanis asli) pada motor uji coba mereka, RTL Electric. Komponen tersebut berfungsi menyimpan energi kinetik pada putaran flywheel yang cepat, yang kemudian disalurkan secara instan lewat kopling saat melewati rintangan berat. Berbeda dengan RTL Electric, paten terbaru pada CR Electric Proto ini murni mengandalkan rekayasa elektronik atau simulasi digital. Sistem komputer pada motor akan membaca setiap pergerakan tuas kopling di setang kiri, lalu memanipulasi keluaran daya dari motor listrik secara langsung. Sebagai gambaran, jika pengendara menarik tuas kopling setengah, maka semburan tenaga motor listrik akan langsung dipangkas setengahnya. Sementara jika tuas ditarik penuh, aliran tenaga akan terputus total ke roda belakang, tidak peduli seberapa dalam pengendara memutar selongsong gas. Paten kopling dan flywheel palsu di motor Honda Lonjakan Torsi dan Getaran Buatan Kelebihan lain dari paten ini adalah kemampuannya meniru teknik clutch dump atau melepas kopling secara mendadak untuk mendapatkan hentakan tenaga. Pengendara bisa membuka gas dalam-dalam saat tuas kopling ditarik, kemudian melepas tuas secara cepat untuk melontarkan motor saat start. Tak hanya soal distribusi tenaga, Honda juga memikirkan aspek komunikasi antara motor dan pengendara (feedback). Masalah utama pada motor listrik adalah hilangnya getaran mekanis yang biasa menjadi patokan pebalap dalam merasakan titik gigit kopling. Untuk menyiasati hal tersebut, paten ini menyertakan tiga motor getar haptik. Komponen getar ini diletakkan pada kedua ujung setang dan satu lagi di dekat tuas kopling kiri. Getaran tiruan ini akan merespons secara dinamis mengikuti putaran motor listrik dan pergerakan kopling, mensimulasikan raungan mesin konvensional. Motor trail listrik Honda CR Electric Proto Masa Depan Motor Sport Selain digunakan untuk kebutuhan kompetisi balap motocross, teknologi simulasi ini diproyeksikan sebagai jembatan edukasi bagi generasi pebalap muda. Banyak anak-anak di masa depan yang memulai karier balapnya langsung menggunakan motor listrik, namun nantinya harus bertransisi ke motor bermesin pembakaran internal (ICE) yang memiliki performa lebih tinggi. Peluang pengaplikasian paten ini pun tidak terbatas pada motor garuk tanah saja, melainkan sangat terbuka untuk motor sport jalan raya. Honda bukan satu-satunya yang bereksperimen dengan hal ini, sebab merek lain seperti Zero dan Kymco juga sempat mendaftarkan paten transmisi buatan. Kendati demikian, pendekatan Honda yang dilengkapi dengan sistem umpan balik haptik ini dinilai jauh lebih realistis demi mengembalikan keasikan berkendara atau fun to ride yang mulai pudar di era elektrifikasi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang