Astra Honda Motor (AHM) pernah punya target penjualan kumulatif 1 juta unit sepeda motor listrik di Indonesia pada 2030. Target tersebut merupakan bagian dari roadmap elektrifikasi Honda yang diumumkan pada akhir 2022. Saat itu, Honda menargetkan penjualan 1 juta unit motor listrik ditopang oleh sedikitnya tujuh model yang dipasarkan di Indonesia. Kini dengan waktu tersisa sekitar tiga setengah tahun menuju 2030, AHM memilih bersikap realistis terhadap pencapaian target tersebut. Direktur Marketing AHM Octavianus Dwi Putro mengatakan, realisasi penjualan tidak hanya bergantung pada ambisi, tetapi juga perkembangan pasar secara nyata. Ilustrasi motor listrik Honda Icon e: dan CUV e: di diler Wahana Honda "Ya, kita mesti realistis juga. Karena ambisi itu satu hal, tetapi ketika realisasi, kita juga melihat penerimaan dari pasar," ujarnya kepada wartawan akhir pekan lalu. Namun, Octa enggan mengungkapkan berapa total penjualan motor listrik Honda hingga saat ini. "Saya lupa kalau itu angkanya ya," kata Octa mengelak. Masih Kurang Tiga Model Sebagai bagian dari roadmap elektrifikasi, Honda sebelumnya menargetkan menghadirkan tujuh model motor listrik hingga 2030. Hingga pertengahan 2026, AHM sudah memasarkan empat model, yakni Honda EM1 e:, EM1 e: Plus, ICON e:, dan CUV e:. Sepeda motor listrik Honda EM1 e: mencetak sejarah sebagai sepeda motor listrik resmi pertama yang mendukung ajang balap bergengsi dunia MotoGP. Artinya, masih ada tiga model motor listrik lagi yang berpotensi diluncurkan apabila tetap mengikuti peta jalan yang telah diumumkan sebelumnya. Saat ditanya mengenai rencana tersebut, Octa belum memberikan rincian. Ia hanya memastikan AHM masih terus mengupayakannya. "Masih kita upayakan. Nanti dilihat aja," ujarnya. Tantangan Menurut Octa, tantangan terbesar dalam mengembangkan pasar motor listrik bukan sekadar menghadirkan produk baru, melainkan memastikan konsumen mendapatkan nilai yang sepadan dengan harga yang dibayarkan. Motor listrik Honda hadir dengan fitur unggulan dan banderol hemat. Ia menegaskan, pengembangan pasar kendaraan listrik harus tetap berangkat dari sudut pandang konsumen. "Jadi kita mau membuktikan bahwa kalau kita membeli, sebenarnya sudut pandangnya harus tetap dari konsumen," katanya. "Konsumen itu kan menerima. Mereka pasti ada harga yang harus dibayar. Nah, apakah sesuai dengan manfaat yang didapat dan lain sebagainya," ungkapnya. Kemudian pada sisi lain, Octa menilai percepatan adopsi kendaraan listrik tidak bisa hanya mengandalkan produsen. Dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mempercepat perkembangan ekosistem. Logo Honda Motor "Sebenarnya di kami, pemerintah, memang bisa melakukan intervensi. Ya, perlu semua pemangku kepentingan. Namun, pada akhirnya pilihan tetap ada di tangan konsumen," ujarnya. Karena itu, Octa menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar pasar motor listrik dapat tumbuh lebih cepat. Salah satunya adalah memahami kebutuhan konsumen serta mengidentifikasi berbagai faktor yang masih menjadi penghambat adopsi kendaraan listrik. "Saat ini masih banyak hal yang perlu kita pahami bersama konsumen terkait kondisi pasar kendaraan listrik (EV). Apa saja yang sebenarnya perlu dicari? Di mana saja celah atau gap yang masih ada," katanya.