Pemerintah Indonesia mendorong peralihan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik, baik melalui pembelian unit baru maupun konversi kendaraan lama. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menginginkan agar seluruh kendaraan di Tanah Air ke depan dapat beralih ke tenaga listrik sebagai bagian dari transisi energi nasional. Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah Salah satu langkah yang ditempuh adalah program konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dirinya ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas transisi energi nasional untuk menjalankan program tersebut. "Percepatan konversi kendaraan bermotor yang 120 juta motor memakai bensin, kita akan mencoba bertahap untuk melakukan konversi ke motor listrik," ujar Bahlil dikutip dari , Senin (9/3/2026). Meski demikian, implementasi program konversi motor listrik ini dianggap masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Paket konversi motor listrik Hendro Sutono, Juru Bicara KOSMIK (Komunitas Sepeda/Motor Listrik) Indonesia, menilai realisasi program dalam beberapa tahun terakhir belum efektif dalam implementasi kebijakan subsidi konversi. "Perbedaan ini memberikan sinyal yang cukup jelas tentang perilaku pasar. Ketika dihadapkan pada dua pilihan, mengonversi motor lama atau membeli motor listrik baru, sebagian besar konsumen cenderung memilih opsi kedua," kata Hendro kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026). "Ini bukan sekadar soal harga, tetapi juga soal kenyamanan, kepercayaan, dan persepsi terhadap produk," ujarnya. Selain itu, Hendro menilai, di luar faktor minat pasar, keterbatasan infrastruktur termasuk jumlah bengkel konversi bersertifikat menjadi hambatan mendasar yang sering luput dari perhatian. Ilustrasi paket konversi motor listrik buatan Nagara. Konversi motor listrik. Proses konversi motor listrik. "Hingga saat ini, jumlah bengkel konversi tersertifikasi masih berada pada kisaran sekitar 60-an bengkel secara nasional. Jika dibandingkan dengan jumlah bengkel sepeda motor yang mencapai ratusan ribu, kapasitas ini sangat terbatas," katanya. "Dengan jaringan yang sempit, kemampuan konversi dalam skala besar otomatis sulit dicapai. Keterbatasan jumlah bengkel ini secara langsung tecermin pada rendahnya realisasi konversi setiap tahunnya," kata Hendro. Bahkan kata Hendro, jika setiap bengkel bekerja secara optimal, kapasitas totalnya tetap belum cukup untuk mengejar target nasional. Realisasi program konversi masih jauh dari target. Paket konversi motor listrik buatan Nagara. Jadi yang termurah setelah disubsidi, harga Rp 4 juta Pada 2023, jumlah kendaraan yang berhasil dikonversi hanya sekitar 145 unit. Angka ini meningkat menjadi sekitar 1.500 unit pada 2024. Secara persentase, kenaikan tersebut terlihat signifikan. Namun, secara absolut sangat kecil jika dibandingkan dengan target yang ada, terlebih dengan total populasi sekitar 120 juta unit motor di Indonesia. Hendro menilai kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ambisi kebijakan dan realitas implementasi di lapangan. Sebaliknya, minat masyarakat terhadap pembelian motor listrik baru justru menunjukkan tren lebih positif. Pada 2023, realisasi subsidi pembelian motor listrik mencapai sekitar 11.532 unit dari target 200.000 unit. Kemudian pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 60.857 unit hingga kuota habis terserap. Angka ini bahkan diperkirakan bisa terus meningkat apabila program subsidi tidak dihentikan pada 2025. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang