Konversi sepeda motor bensin menjadi motor listrik kerap dianggap proses yang sederhana. Tak sedikit yang mengira proses konversi motor listrik hanya mengganti tiga komponen utama, yakni baterai, motor listrik (dinamo), dan kontroler (ECU). Padahal, kenyataannya tidak seringkas itu. Proses konversi membutuhkan penggantian banyak komponen agar motor bisa berfungsi dengan baik dan aman digunakan. Pendiri Bintang Racing Team (BRT), Tomy Huang, menjelaskan bahwa konversi motor listrik melibatkan puluhan komponen. Redaksi KOMPAS.com menjajal Honda Tiger bertenaga listrik garapan BRT Electric “Supaya jadi satu motor konversi, komponennya itu kurang lebih ada sekitar 20 item. Jadi sebenarnya, yang sering dipahami orang soal konversi itu hanya baterai dan ECU, padahal tidak sesederhana itu," kata Tomy kepada Kompas.com, Senin (6/4/2026). "Ada banyak komponen lain seperti paket baterai, kabel, DC-DC, DPS, pulley, dan sebagainya. Totalnya bisa sekitar 20 sampai 25 item," ujarnya. Banyaknya komponen yang harus disesuaikan ini menjadi salah satu tantangan dalam program konversi motor listrik. Setiap bagian harus dirancang agar saling terintegrasi dan tetap memenuhi standar keselamatan. Yamaha Fazzio yang diubah menjadi motor listrik konversi oleh bengkel Bintang racing Team (BRT) Meski demikian, Tomy melihat dari sisi kesiapan teknis, industri dinilai sudah cukup siap. Ketersediaan komponen dan dukungan teknologi membuat proses konversi kini lebih mudah dilakukan dibanding beberapa tahun lalu. "Namun, semua komponen tersebut sudah tersedia di BRT. Kami juga sudah menyiapkan produk untuk kurang lebih 30 tipe motor yang secara statistik paling banyak digunakan di pasar saat ini,” ujar Tomy. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang