Wacana konversi besar-besaran sepeda motor berbahan bakar minyak ke listrik kembali menuai sorotan. Target ambisius hingga 120 juta unit dinilai bukan hanya soal kesiapan teknologi, tetapi juga menyangkut fondasi industri dalam negeri yang belum sepenuhnya siap menopang lonjakan permintaan tersebut. Melihat di tengah dorongan percepatan elektrifikasi kendaraan, sejumlah pihak mengingatkan bahwa langkah ini tidak bisa hanya berfokus pada jumlah unit semata. Tanpa diimbangi kesiapan industri hulu, kebijakan konversi justru berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama terkait ketergantungan impor komponen utama. Menurut Yannes Martinus Pasaribu Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ada hal mengerikan jika 120 juta konversi motor listrik dipaksakan. Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah "Komponen utama EV seperti sel baterai (battery pack), controller, motor listrik (BLDC/drivetrain), hingga BMS (Battery Management System), saat ini mayoritas masih diimpor, terutama dari China. Kita tidak punya industri komponen domestik," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa ekosistem kendaraan listrik roda dua di Indonesia masih bertumpu pada rantai pasok global. Artinya, setiap peningkatan permintaan secara signifikan akan berbanding lurus dengan lonjakan impor, yang pada akhirnya menekan neraca perdagangan. "Jika 120 juta motor dikonversi tanpa adanya kewajiban TKDN yang nyata untuk komponen inti, Indonesia hanya akan menjadi pasar perakitan suku cadang impor berskala raksasa," kata Yannes. Konversi motor listrik Kemenhub Ia menilai, tanpa kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kuat dan terukur, peluang untuk membangun industri komponen lokal akan semakin sulit terwujud. Padahal, pengembangan industri dalam negeri menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, sekaligus kemandirian teknologi. Lebih jauh, ketergantungan terhadap komponen impor juga berisiko menciptakan tekanan baru terhadap devisa negara. Apalagi jika skala konversi dilakukan secara masif dalam waktu singkat, tanpa strategi industrialisasi yang matang. Dukung Program Elektrifikasi, Puluhan Siswa SMK Lakukan Konversi Motor Listrik "Hal ini akan menguras devisa negara dalam bentuk baru dan membunuh potensi lokalisasi industri otomotif kendaraan listrik roda dua kita," ujarnya. Dengan demikian, dorongan konversi motor listrik sebaiknya tidak hanya mengejar target kuantitatif. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan kesiapan ekosistem dari hulu ke hilir, termasuk memperkuat industri komponen dalam negeri, agar transformasi menuju elektrifikasi benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang