— Rencana ambisius pemerintah untuk mengonversi 120 juta unit sepeda motor konvensional (berbasis BBM) menjadi sepeda motor listrik terus menuai sorotan. Langkah strategis ini dinilai memerlukan cetak biru (blueprint) yang matang, bukan sekadar target di atas kertas. Pengamat otomotif nasional, Bebin Djuana, mengatakan, jika pemerintah ingin melakukan konversi kendaraan konvensional menjadi listrik, diperlukan persiapan yang benar-benar matang, mulai dari pelatihan keterampilan. Dukung Program Elektrifikasi, Puluhan Siswa SMK Lakukan Konversi Motor Listrik Menurut Bebin, skala konversi yang menyentuh angka ratusan juta unit tidak akan efektif jika proses pengerjaannya hanya berpusat di kota-kota besar atau mengandalkan segelintir bengkel modern yang tersertifikasi secara eksklusif. "Untuk target 120 juta, tidak bisa dilakukan sentralisasi. Karena kendaraannya menyebar di seluruh pelosok Nusantara, sehingga anak-anak muda lulusan STM dan setingkat mampu mengerjakannya dan menjadi sumber penghasilan mereka," ujar Bebin, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Artinya, program ini harus berbasis kerakyatan dengan menyentuh sektor pendidikan vokasi. Dengan melibatkan sekolah teknik, pemerintah tidak hanya mempercepat target populasi kendaraan listrik (electric vehicle/EV), tetapi juga membuka lapangan kerja baru secara masif di daerah. Paket konversi motor listrik Sinergi Swasta dan Harga Murah Selain kesiapan tenaga mekanik di berbagai daerah, tantangan terbesar dari program konversi ini berada pada rantai pasok (supply chain) komponen, seperti baterai, motor listrik (hub drive), dan controller. Bebin menekankan bahwa peran penyuplai lokal dan industri swasta sangat krusial untuk menekan biaya produksi agar tidak membebani masyarakat ekonomi lemah. Bengkel konversi motor listrik murah baru dikenalkan "Komponen yang dibutuhkan swasta juga perlu dilibatkan untuk mendapatkan produk-produk berkualitas dengan harga yang wajar. Karena yang mau dijangkau adalah konsumen yang belum bisa membeli kendaraan baru," ujarnya. hitungan ekonomi, mayoritas pemilik sepeda motor konvensional di Indonesia adalah kelompok masyarakat yang sensitif terhadap harga. Jika biaya konversi masih setara atau bahkan lebih mahal dari harga motor bekas pakai, program ini diprediksi sulit berjalan optimal. Honda Tiger hasil konversi motor listrik karya BRT Electric Oleh karena itu, intervensi pemerintah dalam bentuk insentif, standardisasi harga komponen baku, hingga subsidi silang menjadi kunci utama keberhasilan transisi energi di sektor transportasi roda dua ini. "Artinya, biaya konversi haruslah benar-benar murah, tapi tidak dengan produk murahan. Pemerintah harus membantu hal ini karena pada akhirnya akan mengurangi penggunaan BBM," katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang