Wacana pemerintah melakukan konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik hingga puluhan juta unit menuai tanggapan dari pelaku industri. Andrew Nasuri, Direktur Indomobil Group, perusahaan yang menaungi merek motor listrik Indomobil E-Motor, menilai, konversi maupun pengembangan kendaraan listrik baru pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni mendukung transisi energi. "Menurut saya sih sama-sama saja. Sebenarnya, tujuan pemerintah adalah mendukung transisi ke elektrik. Transisi ke elektrik itu apa? Mengurangi subsidi BBM," kata Andrew di Beijing, China, akhir pekan lalu. Test ride Indomobil Emotor QT Menurut Andrew, langkah konversi tidak menjadi persoalan selama tujuannya jelas. Namun, ia mengingatkan bahwa ada perbedaan mendasar antara kendaraan hasil konversi dan kendaraan listrik yang sejak awal dirancang sebagai EV. "Enggak masalah, mau konversi atau apa pun tidak masalah," ujar Andrew. "Cuma, kalau namanya konversi, asal-muasalnya motor itu adalah motor ICE yang bobot badannya sekian. Kalau yang listrik, pasti ada bedanya, karena dari awal desainnya memang untuk listrik," katanya. Redaksi KOMPAS.com menjajal Honda Tiger bertenaga listrik garapan BRT Electric Ia mencontohkan, pada tahap awal tren kendaraan listrik, konsep konversi juga sempat diterapkan pada mobil. Namun, hasilnya dinilai kurang optimal karena keterbatasan desain dasar kendaraan. "Mobil konversi awal-awal kan ada, kenapa tidak sukses? Karena arsitektur mobil itu dibuat untuk ICE," katanya. Seiring perkembangan teknologi, produsen mulai merancang kendaraan listrik dari nol, termasuk platform dan arsitektur khusus. Hal ini yang kemudian membuat performa dan efisiensi kendaraan listrik menjadi lebih optimal. "Tapi setelah arsitektur itu dibuat untuk EV, ya jadilah EV-EV yang kita kerjakan sekarang. Dari awal blueprint-nya apa dulu," ujarnya. Tabung listrik untuk baterai motor konversi dikembangkan peneliti dari UI. Andrew juga menyoroti pentingnya perencanaan dalam program konversi, mulai dari spesifikasi teknis hingga aspek tanggung jawab pihak yang melakukan konversi. "Platform motor, berat badannya berapa? Penggunanya bagaimana? Lalu, setelah konversi itu, siapa yang mengonversikan? Garansinya ada atau tidak? Iya dong," kata Andrew. Sebagai informasi, pemerintah sebelumnya mewacanakan program konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik dalam jumlah besar, bahkan disebut bisa mencapai hingga 120 juta unit. Program ini bertujuan untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik nasional, sekaligus menekan konsumsi bahan bakar minyak dan emisi gas buang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang