Wacana konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik kembali mengemuka sebagai salah satu strategi percepatan elektrifikasi kendaraan di Indonesia. Namun, di tengah berbagai keterbatasan, muncul pertanyaan apakah konversi layak dijadikan strategi utama? Program konversi sejatinya menawarkan solusi cepat dengan memanfaatkan kendaraan yang sudah ada. Alih-alih membeli unit baru, pemilik motor mengganti mesin konvensional dengan sistem penggerak listrik. Secara teori, pendekatan ini bisa mengurangi emisi sekaligus menekan biaya. Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah Juru Bicara Komunitas Sepeda/Motor Listrik (KOSMIK) Indonesia, Hendro Sutono, menilai kebijakan konversi perlu dilihat secara realistis dari sisi efektivitas dan skala. "Kebijakan publik pada akhirnya harus mempertimbangkan efisiensi, efektivitas, dan kesesuaian skala," kata Hendro kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026). "Program yang berjalan jauh di bawah target dalam beberapa tahun berturut-turut perlu dievaluasi secara terbuka," ujarnya. Menurut Hendro, konversi tetap memiliki tempat, namun bukan sebagai solusi utama untuk persoalan yang sangat besar seperti elektrifikasi jutaan kendaraan. "Konversi mungkin tetap memiliki peran sebagai solusi pelengkap, terutama untuk segmen tertentu atau sebagai bagian dari pengembangan kapasitas teknis," katanya. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mencoba menaiki motor listrik hasil konversi dari motor konvensional di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/8/2024). "Namun untuk menjawab tantangan 120 juta sepeda motor di Indonesia, diperlukan pendekatan yang mampu bekerja pada skala yang sama besar," ujar Hendro. Ia menambahkan, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kesenjangan antara ambisi kebijakan dan realitas di lapangan. "Program konversi motor listrik memberikan pelajaran penting bahwa skala masalah harus dijawab dengan skala solusi yang setara," kata Hendro. "Tanpa ekosistem yang memadai, dukungan industri yang kuat, dan kesesuaian dengan perilaku konsumen, sebuah kebijakan berisiko berjalan jauh dari target yang ditetapkan," ujarnya. Paket konversi motor listrik Data menunjukkan, pada 2023 konversi hanya mencapai sekitar 145 unit. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 1.500 unit pada 2024. Meski secara persentase terlihat melonjak, jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan target yang sempat mencapai puluhan hingga ratusan ribu unit. Jika dibandingkan dengan populasi sekitar 120 juta unit motor di Indonesia, capaian tersebut nyaris tidak signifikan. Bahkan dengan pertumbuhan berlipat setiap tahun, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai skala besar dinilai akan sangat panjang. Motor bahan bakar minyak yang sudah dikonversi menjadi motor lostrik batrei dipamerkan di Surabaya saat roadshow program konversi motor listrik, Sabtu (12/8/2023). Sebagai perbandingan, program subsidi pembelian motor listrik baru menunjukkan capaian yang lebih tinggi. Pada 2023, realisasi subsidi mencapai sekitar 11.532 unit dari target 200.000 unit. Sementara pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 60.857 unit hingga kuota habis terserap. Angka tersebut diperkirakan masih bisa meningkat apabila program subsidi tidak dihentikan pada 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar cenderung lebih responsif terhadap pembelian motor listrik baru dibandingkan konversi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang