Perkembangan pasar mobil listrik di Indonesia pada 2025 menunjukkan dinamika yang kontras. Di satu sisi, penjualan mobil listrik baru khususnya dari pabrikan China, terus meningkat dan makin agresif menembus pasar nasional. Namun di sisi lain, permintaan terhadap mobil listrik bekas justru masih tergolong rendah, bahkan belum dianggap menarik bagi sebagian besar pedagang mobil bekas. Ketua Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI) Tjung Subianto, mengungkapkan bahwa mobil listrik bekas kini memang mulai masuk pasar sekunder, termasuk showroom mobil bekas hingga bursa lelang. Meski begitu, minat konsumen masih jauh di bawah ekspektasi, lantaran penjualan mobil listrik tidak mencapai target. Pasar mobil bekas diklaim lesu pada 2025 Menurut Tjung yang biasa disapa Ationg, strategi produsen mobil listrik asal Tiongkok sangat agresif, baik dari sisi pembaruan model maupun penurunan harga yang berlangsung cepat. Hal ini berdampak langsung pada nilai jual kembali kendaraan listrik di pasar mobil bekas. “Contohnya Wuling Air ev, datangnya bergelombang, model baru terus keluar, dan harganya turun cepat. Kami beli Rp 200 juta, belum sempat laku, sudah terkoreksi, ujungnya rugi,” ujar Ationg, kepada Kompas.com, dikutip Jumat (2/1/2026). Selain depresiasi harga yang dianggap terlalu tajam, Ationg juga menyoroti belum kuatnya perlindungan pabrikan terhadap nilai jual dan garansi mobil listrik bekas. Ilustrasi mobil listrik bekas Chery Omoda E5 Ia menilai, pendekatan produsen saat ini masih berfokus pada penguasaan pasar, bukan menjaga stabilitas harga di pasar sekunder. “Produsen tidak menjaga harga bekas. Fokusnya menguasai pasar, bukan mempertahankan nilai jual kembali. Konsumen juga masih ragu soal keamanan dan keandalan,” ucap dia. Kondisi ini membuat banyak pedagang mobil bekas memilih berhati-hati, bahkan menahan diri untuk tidak menyimpan stok mobil listrik dalam jumlah besar. Ilustrasi SPKLU mobil listrik di Tol Trans Jawa Risiko kerugian dinilai terlalu tinggi, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah di sektor perdagangan kendaraan bekas. “Kami sudah beberapa kali coba, hasilnya selalu rugi. Jadi sementara ini stop dulu. Kalau hybrid masih ada pasarnya, terutama buatan Jepang, jadi masih berani pegang,” kata dia. Meski begitu, Ationg meyakini bahwa transisi menuju kendaraan listrik hanya soal waktu. Ia memprediksi mobil listrik akan mendominasi pasar di kota-kota besar. Mobil listrik BYD Sealion 7 Terutama dalam waktu lebih dari 6-7 tahun ke depan, seiring meningkatnya infrastruktur, literasi konsumen, serta stabilitas ekosistem purnajual. Untuk saat ini, para pedagang mobil bekas disebut perlu beradaptasi dengan cara mengalihkan fokus ke wilayah yang populasi mobil listriknya belum terlalu besar. Di area tersebut, mobil bermesin bakar konvensional masih memiliki pasar yang kuat. “Suka tidak suka, kita akan hijrah ke daerah-daerah di mana mobil listrik belum banyak berkembang. Di sana, mobil konvensional masih punya tempat,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang