Ketidakpastian energi global kembali menjadi perhatian, terutama di tengah kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika geopolitik. Kondisi ini mendorong masyarakat mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif, meski adopsinya di Indonesia masih dalam tahap berkembang. Di sisi lain, sejumlah indikator menunjukkan bahwa momentum kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Tanah Air mulai menguat. Baik dari sisi penggunaan, kesiapan infrastruktur, hingga dukungan kebijakan pemerintah, arah pengembangan EV dinilai semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan mobil listrik di Indonesia meningkat pesat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, penjualan EV tercatat sekitar 10.327 unit, lalu naik menjadi 17.051 unit pada 2023, dan melonjak hingga 103.931 unit pada 2025. Seiring lonjakan tersebut, pangsa pasar kendaraan listrik juga meningkat signifikan. Jika pada 2023 masih berada di kisaran 1,7 persen, maka pada 2025 sudah menembus sekitar 12–13 persen dari total penjualan mobil nasional. Booth BYD di IIMS 2026 Memasuki 2026, tren tersebut terus berlanjut. Dalam dua bulan pertama tahun ini, pangsa pasar kendaraan listrik bahkan telah mencapai sekitar 15 persen dari total penjualan mobil nasional, menandakan perubahan struktur pasar yang semakin nyata. Menurut Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe dan dosen di National Battery Research Institute (NBRI), perkembangan adopsi kendaraan listrik di Indonesia mengalami lonjakan signifikan dalam waktu singkat. “Dengan trajektori saat ini, Indonesia realistis mencapai lebih dari 50 persen pangsa penjualan EV sekitar tahun 2032 hingga 2034. Ini bukan target yang terlalu ambisius,” kata Mahaendra kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026). Ia menambahkan, tren tersebut tidak terlepas dari perkembangan ekosistem yang semakin matang, mulai dari infrastruktur pengisian daya hingga jaringan purna jual. Selain itu, semakin banyaknya pilihan model dan pemain baru juga membuat kendaraan listrik lebih mudah diakses oleh konsumen. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) memperkuat layanan mudik Lebaran 2026 dengan menyediakan 189 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) di jalan tol. Pertumbuhan ini juga terlihat dari massifnya berbagai merek global, khususnya dari China, yang membawa pilihan kendaraan listrik dengan harga lebih kompetitif. Kehadiran produk-produk ini dinilai turut mendorong percepatan adopsi di pasar domestik. Jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan, Indonesia memang masih dalam tahap mengejar. Thailand misalnya telah mencatat pangsa EV di atas 20 persen, sementara beberapa negara Asia Tenggara lain juga menunjukkan akselerasi cepat berkat insentif fiskal dan dukungan industri yang agresif. Dari sisi pemerintah, arah pengembangan kendaraan listrik juga telah dirancang secara bertahap. Kementerian Perindustrian membagi roadmap EV nasional dalam tiga periode, yaitu fase inisiasi pada 2023–2026, dilanjutkan fase konsolidasi pada 2026–2029, dan fase ekspansi pasca-2030 yang ditujukan untuk mendorong adopsi massal. Selain itu, pemerintah juga menetapkan target peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap, mulai dari 40 persen pada periode awal hingga mencapai 80 persen pada 2030 dan seterusnya. Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat industri komponen dalam negeri sekaligus mendukung ekosistem EV nasional. Meski demikian, tantangan masih membayangi. Infrastruktur pengisian daya yang belum merata, harga kendaraan yang relatif tinggi, serta konsentrasi pasar yang masih didominasi wilayah perkotaan menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Kendaraan listrik dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang lebih luas di Indonesia. Namun, kecepatan adopsinya ke depan akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang