Isu potensi lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian, terutama di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat dinamika global. Kondisi ini mendorong sebagian masyarakat mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif. Namun, adopsinya masih dibayangi berbagai keraguan, salah satunya terkait jarak tempuh atau yang dikenal sebagai range anxiety. Menurut Mahaendra Gofar, pendiri EV Safe dan pengajar di National Battery Research, kekhawatiran tersebut sering kali tidak sebanding dengan realita penggunaan sehari-hari. “Range anxiety sesungguhnya lebih merupakan hambatan psikologis yang cepat hilang begitu seseorang mulai terbiasa menggunakan EV,” kata Mahaendra kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026). Ia menjelaskan, secara teknis mobil listrik saat ini sudah memiliki jarak tempuh yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Rata-rata kendaraan listrik mampu menempuh 250 hingga 500 kilometer dalam sekali pengisian, sementara penggunaan harian masyarakat umumnya hanya berkisar 40 hingga 60 kilometer. Dari sisi pengisian daya, pengguna juga tidak selalu harus bergantung pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Pengisian di rumah menggunakan arus AC selama 6 hingga 8 jam pada malam hari dinilai sudah mencukupi untuk kebutuhan harian. Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKL) rumah alias Home Charging EV dari Simon Electric Dalam praktiknya, bahkan banyak pengguna hanya memerlukan tambahan pengisian singkat sekitar 1 hingga 2 jam jika dilakukan secara rutin setiap hari. Selain itu, opsi pengisian cepat juga semakin tersedia. Dengan teknologi fast charging arus DC, pengisian baterai dapat dilakukan dalam waktu sekitar 30 hingga 45 menit, sehingga tetap memungkinkan untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh. SPKLU Center Signature berkapasitas 400 kW di Scientia Garden, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Fasilitas ultra fast charging yang mengusung teknologi split charger dengan liquid cooling system yang memungkinkan proses pengisian daya kendaraan listrik berlangsung lebih cepat dan efisien. Meski demikian, penggunaan mobil listrik di luar kota masih memiliki tantangan, terutama terkait ketersediaan infrastruktur pengisian dan waktu pengisian yang lebih lama dibandingkan mengisi BBM. Namun, menurut Mahaendra, kondisi di lapangan sebenarnya lebih positif dibandingkan persepsi yang berkembang. “Pengisian rumahan tetap menjadi solusi utama selama listrik PLN tersedia dan stabil. Bahkan di kota menengah, pengguna masih bisa beraktivitas normal tanpa bergantung penuh pada SPKLU,” ujarnya. Ia menambahkan, jaringan SPKLU juga terus berkembang, baik oleh PLN maupun pihak swasta yang mulai memperluas jangkauan ke luar Pulau Jawa. Dari sisi kendaraan, banyak model mobil listrik kini juga telah memiliki ground clearance yang lebih baik, sehingga lebih siap menghadapi kondisi jalan yang beragam di Indonesia. “Kendala terbesar saat ini lebih ke soal kebiasaan dan edukasi, bukan keterbatasan teknis yang fundamental,” kata Mahaendra. Seiring perkembangan teknologi dan bertambahnya infrastruktur, kekhawatiran terhadap mobil listrik dinilai akan semakin berkurang. Tantangan ke depan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana membangun pemahaman masyarakat terhadap pola penggunaan kendaraan listrik yang berbeda dengan mobil konvensional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang