Stasiun pengecasan mobil listrik. Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin akrab di jalanan Indonesia, seiring meningkatnya pilihan model dan dukungan infrastruktur. Meski terlihat sederhana karena tidak lagi memakai mesin bensin, kebiasaan berkendara mobil listrik ternyata punya aturan main yang berbeda. Banyak pemilik baru EV masih memperlakukan mobil listrik layaknya mobil konvensional. Padahal, ada sejumlah kebiasaan lama yang justru sebaiknya ditinggalkan agar mobil tetap awet, efisien, dan nyaman digunakan.Disadur VIVA Otomotif dari Slashgear, Senin 5 Januari 2026, salah satu kesalahan paling umum adalah kebiasaan mengisi daya hingga penuh setiap kali mengecas. Logikanya memang mirip mengisi bensin, semakin penuh semakin aman, padahal baterai EV bekerja dengan prinsip yang berbeda. Mengisi daya sampai 100 persen terus-menerus dapat mempercepat degradasi baterai, terutama untuk tipe baterai non-LFP. Untuk penggunaan harian di dalam kota, menjaga daya di kisaran 20 hingga 80 persen justru lebih dianjurkan.Pengisian penuh tetap boleh dilakukan, terutama saat akan menempuh perjalanan jauh. Namun, jika mobil hanya digunakan untuk aktivitas rutin, membiasakan pengecasan parsial jauh lebih ramah untuk umur baterai. Kebiasaan lain yang sering dianggap sepele adalah terlalu sering mengandalkan pengisian cepat DC fast charging. Fitur ini memang praktis, tetapi bukan solusi ideal untuk penggunaan harian. Arus besar dan panas tinggi saat fast charging bisa memberi tekanan tambahan pada sel baterai. Jika dilakukan terus-menerus, daya tahan baterai berpotensi menurun lebih cepat. Idealnya, pengisian cepat hanya digunakan dalam kondisi darurat atau saat perjalanan jarak jauh. Di luar itu, pengecasan AC di rumah dengan arus lebih stabil menjadi pilihan yang lebih aman.Soal perawatan, ban sering kali luput dari perhatian pemilik EV. Padahal bobot mobil listrik umumnya lebih berat karena baterai besar yang terpasang di bagian bawah.Berat tambahan tersebut membuat ban bekerja lebih keras dan berpotensi aus lebih cepat. Pemeriksaan tekanan dan kondisi tapak ban secara rutin sangat penting untuk menjaga keamanan dan efisiensi.Selain bobot, karakter torsi instan juga berkontribusi pada keausan ban. Akselerasi mendadak yang sering dilakukan bisa mempercepat habisnya tapak ban.Godaan untuk menekan pedal gas dalam-dalam memang sulit ditolak saat mengendarai EV. Tarikan spontan yang halus sering kali membuat pengemudi terlena.Namun, akselerasi agresif berdampak langsung pada konsumsi energi. Semakin sering dilakukan, semakin cepat pula baterai terkuras dan jarak tempuh menyusut.Kebiasaan ini juga berpengaruh pada frekuensi pengisian daya. Semakin sering mengecas, semakin besar pula potensi penurunan kesehatan baterai dalam jangka panjang.Kesalahan lain yang sering diremehkan adalah mengabaikan pembaruan perangkat lunak. Padahal EV modern sangat bergantung pada sistem digital untuk mengatur performa dan keselamatan.Pembaruan software tidak hanya memperbaiki bug, tetapi juga bisa meningkatkan efisiensi baterai dan sistem pengisian. Beberapa pabrikan bahkan menyematkan peningkatan jarak tempuh lewat update.Mengabaikan update sama saja dengan melewatkan potensi peningkatan performa gratis. Oleh karena itu, pemilik EV disarankan rutin memeriksa dan memasang pembaruan resmi dari pabrikan.