Ilustrasi tracking kendaraan Di sisi lain, banyak perusahaan masih menghadapi kendala dalam integrasi data armada. Minimnya visibilitas real-time membuat pengambilan keputusan terkait efisiensi distribusi dan strategi penurunan emisi belum berjalan optimal. GULIR UNTUK LANJUT BACA Sejumlah studi kasus di Indonesia menunjukkan, tingginya waktu kendaraan dalam kondisi idle serta rute distribusi yang kurang efisien menjadi faktor utama pemborosan bahan bakar. Dampaknya, emisi karbon dari aktivitas kendaraan ikut meningkat.Untuk menjawab tantangan tersebut, TransTrack menghadirkan Smart Fleet Management System berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini memungkinkan pemantauan performa armada secara real-time sekaligus menghitung emisi karbon secara otomatis berdasarkan aktivitas kendaraan.Founder & CEO TransTrack, Anggia Meisesari, mengatakan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi pada kesadaran, melainkan eksekusi di lapangan.“Banyak perusahaan sudah memiliki komitmen ESG, tapi belum didukung visibilitas data yang memadai,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin 4 Mei 2026.Dengan sistem berbasis data, perusahaan dapat mengidentifikasi sumber inefisiensi, mulai dari pola berkendara, waktu berhenti, hingga perencanaan rute. Informasi ini menjadi dasar untuk menekan biaya operasional sekaligus mengurangi emisi karbon secara lebih konkret.TransTrackmengklaim teknologi ini telah digunakan di berbagai sektor, termasuk logistik dan pertambangan. Hasilnya, produktivitas armada meningkat hingga 40 persen dan biaya operasional turun sampai 30 persen. Selain efisiensi, sistem ini juga membantu pelaporan emisi berbasis data yang lebih akurat.Namun demikian, penerapan teknologi dinilai belum cukup tanpa kesiapan sumber daya manusia. Untuk itu, perusahaan melalui TransTrack Academy menggelar Mini Bootcamp Sustainable Supply Chains yang akan berlangsung secara daring pada 8 Mei 2026. TransTrack Academy Direktur TransTrack Academy, Budi Santosa Chulasoh, menilai masih ada kesenjangan antara pemahaman konsep dan praktik di lapangan. “Masih ada gap antara konsep keberlanjutan dengan implementasi operasional sehari-hari,” katanya. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Program ini dirancang dengan pendekatan studi kasus agar para profesional dapat langsung memahami penerapan strategi berbasis data dalam operasional. Harapannya, adopsi praktik rantai pasok yang lebih efisien dan berkelanjutan dapat berjalan lebih cepat.Ke depan, integrasi teknologi digital dan peningkatan kompetensi SDM diproyeksikan menjadi kunci utama dalam menekan emisi karbon sekaligus menjaga efisiensi operasional. Dengan langkah ini, industri tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan secara terukur.