SOLO, KOMPAS.com - Pengemudi membutuhkan cara berkendara khusus agar mobil matik menjadi lebih irit BBM. Dengan memahami prinsip kerja pengaturan rasio percepatan pada gearbox, mobil matik bisa jadi lebih efisien. Mobil matik identik dengan kenyamanan dan mudah pengoperasiannya. Sistem transmisi akan melakukan penyesuaian rasio percepatan, berdasarkan kebutuhan pengemudi secara otomatis. Itu kelebihan pada mobil matik, tetapi bisa menjadi kekurangan karena pengemudi menjadi tidak bisa memilih percepatan secara manual lewat persneling. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten, mengatakan secara umum konsumsi BBM pada mobil matik bisa lebih boros daripada model manual. "Ini terjadi lantaran prinsip kerja koplingnya, yakni kopling fluida pada AT konvensional dan continuously variable transmission (CVT), dan kopling kering pada mobil manual, ada perbedaan selisih rasio putaran di keduanya," ucap Imun kepada KOMPAS.com, Selasa (23/12/2025). Kopling kering memungkinkan putaran mesin bisa tersalurkan seluruhnya ke transmisi, sehingga bisa menghasilkan jarak tempuh lebih jauh. Ilustrasi torque converter pada AT konvensioal Sementara pada kopling fluida, akan ada selisih putaran mesin dan transmisi karena prinsip kerjanya mengandalkan gaya sentrifugal dari sifat zat cair. "Pada prinsipnya, saat awal jalan mobil membutuhkan setengah kopling, di kopling kering bisa terjadi dengan mengangkat pedal setengah, sementara di mobil matik terjadi di torque converter secara otomatis," ucap Imun. Prinsip kopling fluida tersebut, membuat putaran mesin mobil matik tak sepenuhnya tersalurkan ke roda, melainkan ada gaya putar yang terbuang. Impresi Berkendara Toyota Corolla Altis GR HEV Sehingga, secara teori jarak yang ditempuh kurang optimal. "Sebenarnya pengendara bisa menerapkan eco driving di mobil matik, dengan mengoptimalkan top gear atau gigi tinggi saat mobil melaju konstan, bila sering setop and go bakal sulit," ucap Imun. Hasan Ariyanto, pemilik bengkel mobil Mandiri Auto Klaten, mengatakan, mobil matik memiliki sistem otomatis dalam menentukan percepatan, berdasarkan pembacaan dari beberapa sensor. "Setiap pabrikan mobil berupaya membuat kendaraan yang efisien, sehingga sistem pada transmisi matik selalu berusaha mengoptimalkan energi (BBM) yang terbakar agar menjadi tenaga atau putaran roda," ucap Hasan kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Percepatan pada mobil matik akan diatur oleh transmission control module (TCM) dan engine control module (ECM) berdasarkan pembacaan sensor seperti pembukaan throttle, kecepatan laju kendaraan, putaran mesin, dan sebagainya. "Untuk menghemat BBM, dibutuhkan jarak tempuh panjang dan konsumsi BBM seminim mungkin atau dengan putaran mesin rendah, sementara transmisi memainkan rasio antara putaran mesin dan output transmisi," ucap Hasan. Hasan mengatakan, kondisi demikian bisa dicapai ketika mobil matik melaju konstan sekitar 60-80 km/jam dengan putaran mesin rendah. Pada saat itu percepatan transmisi sudah pada posisi top gear. "Berbeda kondisinya ketika pengemudi sering melakukan kickdown, maka rasio percepatan akan dibikin rendah atau downshift untuk mendapatkan akselerasi optimal, saat bersamaan BBM yang disemburkan juga lebih banyak," ucap Hasan. Jadi, menurut Hasan, untuk menghemat BBM menggunakan mobil matik, pengemudi bisa menerapkan mode cruising atau melaju konstan dengan putaran mesin rendah. Kondisi tersebut membuat percepatan transmisi berada di posisi top gear lebih lama. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang