Berkendara saat bulan puasa membutuhkan perhatian lebih karena kondisi fisik dan emosi pengendara cenderung berubah. Kurang tidur, perubahan pola makan, serta rasa lapar dan haus bisa memengaruhi konsentrasi di jalan. Kondisi tersebut membuat pengendara lebih mudah terpancing emosi, terutama saat menghadapi kemacetan atau perilaku pengguna jalan lain yang agresif. Karena itu, mengendalikan diri menjadi kunci utama untuk menjaga keselamatan selama berkendara. Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, pengendara perlu menerapkan beberapa langkah sederhana untuk menjaga emosi tetap stabil saat di jalan. Salah satu yang paling penting adalah menjaga jarak aman dengan kendaraan lain. Honda ADV160 RoadSync “Untuk menjaga emosi saat kita berkendara, caranya dengan menjaga jarak aman. Supaya tidak terlalu dekat,” kata Agus kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026). Menurut dia, jarak aman tidak hanya berfungsi menghindari tabrakan, tetapi juga membantu pengendara memiliki ruang reaksi lebih luas sehingga tidak mudah panik. Ketika ruang berkendara terasa lega, tingkat stres pengendara juga cenderung menurun. “Kemudian jangan terpengaruh dengan situasi sekitar yang membuat kita menjadi emosi. Misalnya ada motor di samping geber-geber, kita harus sabar dan ingat tujuan kita berkendara itu adalah ingin selamat sampai ke rumah,” kata Agus. Selain itu, pengendara juga diingatkan agar tidak terpancing provokasi dari pengguna jalan lain. Situasi lalu lintas yang ramai menjelang waktu berbuka puasa sering kali memicu perilaku terburu-buru yang dapat meningkatkan risiko konflik di jalan. “Jadi kita harus benar-benar sabar ketika berkendara,” ujar Agus. Ia menambahkan, menjaga fokus saat puasa juga dapat dilakukan dengan memastikan kondisi tubuh tetap prima sebelum berkendara, seperti cukup istirahat dan tidak memaksakan perjalanan saat tubuh terasa lelah. Jika mulai kehilangan konsentrasi, pengendara disarankan menepi sejenak untuk beristirahat. Dengan mengelola emosi, menjaga jarak aman, serta tetap fokus pada tujuan perjalanan, risiko kecelakaan dapat ditekan. Pada akhirnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama, terutama saat kondisi tubuh tidak berada pada performa terbaik selama menjalani ibadah puasa. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang