Mengemudi jarak jauh membutuhkan stamina dan konsentrasi penuh. Namun saat berpuasa, kondisi tubuh tidak berada dalam performa terbaiknya. Asupan energi yang terbatas serta perubahan pola istirahat membuat pengemudi lebih cepat mengalami kelelahan. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan bahwa fatigue menjadi risiko utama saat berkendara lama, terutama dalam kondisi berpuasa. Menurut dia, pengemudi harus memahami batas kemampuan tubuhnya. “Mengemudi jarak jauh atau lama paling rawan terkena fatigue, terlebih saat puasa,” ujar Sony kepada Kompas.com, Selasa (24/2/2026). Ia menegaskan, durasi berkendara perlu diperhitungkan secara matang. Idealnya, pengemudi beristirahat setiap 2-3 jam untuk mencegah penurunan konsentrasi dan respons tubuh terhadap situasi jalan. “Durasi berkendara maksimal 2-3 jam dan harus diselingi istirahat. Jangan menunggu sampai badan sangat pegal atau pancaindra mulai drop,” kata Sony. Ilustrasi rest area Jasa Marga Selain itu, posisi duduk juga tak boleh diabaikan. Banyak pengemudi menyetel kursi terlalu santai demi kenyamanan, tetapi justru membuat tubuh cepat lelah dan terlena hingga lupa waktu istirahat. “Sering kali pengemudi menyetel cara duduk terlalu rileks dan akhirnya lupa istirahat. Ingat, pengemudi berpuasa memiliki keterbatasan fisik dalam beraktivitas,” ucapnya. Sony juga mengingatkan agar memilih rute yang memiliki fasilitas istirahat aman dan nyaman. Perjalanan seharusnya dinikmati dengan tetap memperhatikan kondisi fisik. Saat berhenti, pengemudi perlu melakukan istirahat yang efektif dengan meregangkan otot, menenangkan saraf, dan menyegarkan pikiran agar kembali fokus sebelum melanjutkan perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang