Berkendara saat bulan Ramadhan membutuhkan kesiapan lebih, bukan hanya dari sisi fisik tetapi juga mental. Perubahan pola makan, jam tidur, hingga kondisi lalu lintas menjelang waktu berbuka membuat pengendara lebih rentan mengalami stres di jalan. Training Director The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan, mengatakan kemacetan setiap bulan Ramadhan sebenarnya sudah bisa diprediksi, terutama pada jam pulang kerja hingga menjelang maghrib. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan kesiapan mental sebelum mulai berkendara. Posisi mengemudi Wuling Cortez Darion PHEV dirasa cukup ergonomis “Apalagi orang di minggu-minggu awal tuh ingin pulang cepat-cepat untuk berbuka bersama (di rumah). Pasti ada penumpukan di atas pukul 15.00 WIB sampai maghrib,” kata Marcell kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026). Menurut dia, memahami situasi lalu lintas sejak awal membantu pengendara menyiapkan ekspektasi sehingga tidak mudah terpancing emosi. Kemacetan sebaiknya dipandang sebagai bagian dari tantangan selama menjalani ibadah puasa. Marcell menjelaskan, emosi menjadi faktor risiko utama kecelakaan saat puasa karena kondisi tubuh tidak berada pada performa terbaik. Ketika emosi meningkat, pengendara cenderung mengambil keputusan berbahaya tanpa disadari. Tangkapan layar pengemudi Daihatsu emosi di jalan raya karena tidak terima diklakson. “Saat orang emosi di jalan bisa menyebabkan road rage, terus pengambilan risiko yang enggak perlu. Misalnya jadi ngebut, atau motong jalur orang dengan reckless. Itu banyak kejadian seperti itu karena kita terbawa oleh emosi,” kata dia. Selain faktor psikologis, kondisi fisik selama puasa juga berpengaruh langsung terhadap fokus berkendara. Tubuh yang kekurangan cairan dan gula membuat konsentrasi menurun serta kemampuan mengendalikan emosi menjadi lebih lemah. Ia menambahkan, kondisi lapar sering kali membuat seseorang lebih mudah tersinggung, sehingga pengendara perlu menyadari perubahan tersebut sejak awal. Kesadaran diri menjadi langkah awal untuk mencegah konflik di jalan raya. “Jadi memang kita mesti prepare dengan hal tersebut, anggap sebagai tantangan kita dalam saat berpuasa. Dan kita harus prepare secara mental, karena secara fisik itu sangat dipaksa ya, terutama minggu-minggu awal,” kata dia. Dengan persiapan mental yang baik, pengendara diharapkan mampu tetap tenang meski menghadapi kemacetan panjang menjelang berbuka. Sikap sabar dan realistis terhadap kondisi jalan menjadi kunci utama menjaga keselamatan selama Ramadhan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang