JAKARTA, KOMPAS.com - Musim hujan kerap membawa risiko tambahan bagi pengendara, salah satunya aquaplaning atau kondisi ketika ban kehilangan traksi karena lapisan air di permukaan jalan. Situasi ini membuat kendaraan sulit dikendalikan dan berpotensi memicu kecelakaan, terutama saat melaju dengan kecepatan tinggi. Karena itu, pemilihan ban yang tepat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keselamatan berkendara di jalan basah. Menurut Fachrul Rozi, Product Manager Michelin Indonesia, karakter ban sangat memengaruhi kemampuan kendaraan menyingkirkan air dari permukaan tapak. Ban dengan desain alur yang tepat akan membantu menjaga kontak antara ban dan aspal meski kondisi jalan basah. “Ban yang aman saat hujan adalah ban yang punya void ratio atau celah alur yang cukup banyak, karena fungsinya untuk mengevakuasi air agar tidak mengangkat ban dari permukaan jalan,” ujarnya kepada Kompas.com, Senin (22/12/2025). Alur ban memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan handling kendaraan, terutama saat berkendara di jalan basah dan tikungan. Fachrul menjelaskan, selain desain alur, lebar ban juga berpengaruh terhadap potensi aquaplaning. Semakin lebar tapak ban, maka semakin besar pula permukaan yang harus menyingkirkan air. Jika tidak diimbangi dengan desain alur yang baik, ban lebar justru lebih rentan mengalami kehilangan traksi di jalan basah. Faktor lain yang tak kalah penting adalah kondisi ketebalan alur ban atau remaining tread depth (RTD). Ban dengan RTD yang sudah menipis akan kesulitan membuang air, sehingga lapisan air mudah terperangkap di bawah tapak ban. “Kalau ketebalan alurnya sudah tipis, kemampuan ban mengevakuasi air otomatis menurun. Itu sebabnya RTD harus selalu diperhatikan, dan kalau sudah tipis sebaiknya segera diganti,” kata Fachrul. Ia menambahkan, banyak pengendara masih memilih ban berdasarkan tampilan atau lebar semata, tanpa mempertimbangkan fungsi alur ban untuk kondisi hujan. Padahal, desain tapak yang tepat justru lebih menentukan keselamatan dibanding sekadar ukuran. Fachrul juga mengingatkan bahwa ban yang terlihat masih layak secara visual belum tentu aman digunakan saat hujan. Alur yang sudah haus meski tidak botak sepenuhnya tetap berisiko memicu aquaplaning. Dengan memahami karakter ban, mulai dari desain alur, lebar tapak, hingga ketebalan RTD, pengendara diharapkan lebih bijak saat memilih dan merawat ban. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi risiko aquaplaning dan menjaga kendaraan tetap stabil saat melintasi jalan basah di musim hujan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang