Di tengah kenaikan harga solar atau BBM diesel, pelaku usaha angkutan barang berharap distribusi biosolar subsidi tetap tepat sasaran, khususnya untuk sektor logistik. Sebab bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional angkutan barang. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan, mengatakan pada dasarnya pengusaha angkutan barang tidak mempermasalahkan jika pemerintah melakukan penyesuaian harga solar. Namun, jika itu terjadi maka dampak kenaikan harga bahan bakar akan sangat terasa terhadap biaya logistik dan berpotensi memicu kenaikan harga barang di masyarakat. Antrean kendaraan mengisi Biosolar mengular hingga keluar area SPBU di Jalan Dr. Sutomo, Padang, Senin (20/4/2026). Lonjakan terjadi setelah kenaikan harga BBM non-subsidi mendorong pengguna beralih ke solar. “Kalau kita, sebetulnya pengusaha angkutan barang ini tidak masalah kalau harga solar dinaikkan,” kata Gemilang di acara Munas Aptrindo III di Jakarta, Rabu (20/5/2026). Gemilang menjelaskan, biaya bahan bakar memiliki porsi sangat besar dalam operasional truk angkutan barang. Karena itu, perubahan harga biosolar akan langsung memengaruhi ongkos distribusi logistik. Jika ongkos logistik meningkat, maka biaya distribusi barang juga ikut naik dan pada akhirnya berdampak pada harga kebutuhan masyarakat. “Tetapi yang kita dipikirkan adalah bahan bakarnya dinaikkan karena komposisi bahan bakar terhadap operasional ini hampir 30-40 persen. Maka dampaknya adalah pengguna jasa, pengguna jasa atau masyarakat kenaikan barang, ini yang dikhawatirkan,” kata dia. Menurut dia, pemerintah dan pelaku usaha saat ini telah berdiskusi terkait mekanisme distribusi bahan bakar subsidi untuk sektor logistik agar tetap terjaga. “Sehingga kami kemarin sudah ada diskusi dengan BPH Migas bahwa untuk (angkutan) logistik tetap akan mendapatkan bahan bakar yang baik melalui satu sistem yang khusus untuk kita,” kata Gemilang. Ilustrasi kendaraan ODOL. Melalui skema tersebut, pengusaha berharap kendaraan angkutan logistik tetap memperoleh akses biosolar subsidi sesuai kebutuhan operasional, sehingga distribusi barang tidak terganggu. Gemilang juga menyoroti perbedaan harga yang sangat jauh antara biosolar subsidi dengan bahan bakar diesel non subsidi seperti Dexlite dan atau Pertamina Dex. Menurut dia, kondisi tersebut membuat penyaluran subsidi harus benar-benar diawasi agar tepat sasaran. “Karena sekarang harga biosolar ini kan Rp 6.800, sedangkan harga BBM Dexlite itu Rp 20.000- Rp. 30.000, ini jauh sekali. Sehingga ini harus dipastikan bahwa solar subsidi ini tepat sasaran,” kata Gemilang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang