Mobil diesel keluaran terbaru kini semakin canggih berkat teknologi common rail dan sistem injeksi bertekanan tinggi yang membuatnya lebih bertenaga, halus, dan efisien. Namun di balik keunggulannya, mesin diesel modern juga menuntut kualitas bahan bakar yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Lantas, bagaimana jika mobil diesel keluaran baru tetap diisi dengan solar subsidi? Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan, mobil diesel keluaran 2022 ke atas umumnya sudah mengikuti regulasi emisi Eropa. Artinya, komponen seperti filter bahan bakar dibuat lebih ketat, lubang injektor lebih kecil, dan tekanan injeksi jauh lebih tinggi. Servis mobil diesel commonrail, mekanik melakukan purging injektor. “Kalau pakai B40, masalahnya kadar kontaminannya lebih banyak. Antara lain mengandung yang namanya monogliserida. Sekarang monogliserida kadarnya sekitar 0,525 persen. Terus sulfurnya masih tinggi karena B0 solarnya itu bebas sulfurnya 42.000 ppm,” kata Tri kepada Kompas.com, Kamis (13/11/2025). Tri menjelaskan bahwa pencampuran solar dengan biodiesel hingga menjadi B40, dengan komposisi 60 persen solar dan 40 persen biodiesel membuat kadar sulfur di dalamnya masih berkisar 1.200 ppm. “Padahal, mobil diesel keluaran terbaru yang mengikuti regulasi emisi Eropa dirancang untuk menggunakan bahan bakar dengan kadar sulfur di bawah 10 ppm. “Bahan bakar terbaik kita seperti Pertamina Dex saja masih 50 ppm. Jadi antara regulasi emisi dan kualitas bahan bakarnya belum sesuai,” ujarnya. Menurut Tri, pabrikan mobil yang memproduksi kendaraan diesel tetap harus lulus uji tipe, salah satunya uji emisi. Namun bahkan ketika memakai solar terbaik di Indonesia, mobil diesel modern berpotensi tidak lolos uji tersebut. “Akhirnya produsen harus impor solar yang sesuai standar Eropa, EN 590, dengan sulfur hanya 10 ppm. Pakai itu baru bisa lulus uji tipe dan dapat sertifikat dijual,” katanya. Mobil bekas Toyota Innova Diesel V AT 2019 Masalah lain muncul setelah mobil berada di tangan konsumen. Di Indonesia, uji emisi hanya dilakukan saat kendaraan baru, berbeda dengan di luar negeri yang mewajibkan uji emisi berkala. “Kalau di luar, kalau tidak lulus uji emisi, mobil tetap boleh jalan, tapi pajaknya lebih mahal karena dianggap lebih mencemari,” katanya. Tri juga mengatakan soal kendala penggunaan B40 pada mobil diesel modern, yaitu filter bahan bakar yang lebih cepat tersumbat. Ia mengatakan bahwa indikator filter di dasbor biasanya sudah menyala pada 19–20 ribu kilometer ketika memakai B40. Sebaliknya, jika menggunakan bahan bakar yang lebih bersih seperti Pertamina Dex, usia pakai filter bisa jauh lebih panjang. “Fortuner saya sudah 65 ribu kilometer belum pernah ganti filter, karena dari baru selalu pakai Pertamina Dex,” katanya. Tri melanjutkan, jika filter solar tersumbat, suplai bahan bakar ke mesin akan terganggu. “Kalau sumbatannya parah, tenaga mesin turun, akselerasi terasa berat, dan kecepatan puncak ikut menurun. Jika indikator filter sudah menyala tetapi tidak segera ditangani, dampaknya bisa semakin besar,” kata Tri. Pada akhirnya, mobil diesel modern membutuhkan bahan bakar yang jauh lebih bersih agar tetap awet dan bertenaga. Menggunakan solar subsidi justru berisiko menurunkan performa dan mempercepat kerusakan komponen, sehingga pemilik kendaraan sebaiknya lebih bijak dalam memilih kualitas bahan bakar. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.