Solar Subsidi atau Bio Solar merupakan salah satu BBM mesin diesel yang paling terjangkau di SPBU Pertamina, yakni sekitar Rp 6.800 per liter. Sedangkan opsi non-subsidi termurah bervariasi antara Pertamina Dex, Shell V-Power Diesel, dan BP Diesel di kisaran Rp 13.000 - Rp14.000-an per liter, tergantung kebijakan harga perusahaan energi dan lokasi. Namun perlu diperhatikan, penggunaan solar subsidi pada mesin diesel modern (common rail) bisa mempercepat kerusakan komponen, seperti filter dan injektor jika tidak dirawat. Jadi opsi non-subsidi lebih disarankan untuk kendaraan baru dan canggih. Sujaka, Area Manager Area 3 dan Branch Manager Nasmoco Slamet Riyadi mengatakan secara teori mobil diesel modern tak disarankan pakai Bio Solar, tapi fakta di lapangan banyak yang pakai. “Mereka lebih memilih untuk mengganti filter solar lebih sering daripada harus pakai BBM yang lebih bersih, tujuannya agar performa tetap prima,” ucap Jaka kepada KOMPAS.com, Jumat (9/1/2026). Pemakaian Bio Solar pada mobil modern berisiko membuat garansi dari bengkel resmi hangus. Maka dari itu, dalam aturan tertulis pemakaian Bio Solar tidak direkomendasikan. Salah satu SPBU yang ada di kota Palembang. Gubernur Sumatera Selatan kini mengeluarkan surat edaran untuk membatasi jam penjualan solar yang sering memicu terjadinya kemacetan. “Tapi, di lapangan, kami lebih mengedepankan pelayanan, sehingga tidak serta merta garansi akan hangus, selama konsumen rajin melakukan perawatan berkala di bengkel resmi (Nasmoco), itu masih bisa dibicarakan,” ucap Jaka. Terlepas dari kebijakan yang fleksibel tersebut, faktanya pemakaian Bio Solar dalam jangka panjang bisa mendatangkan kerugian. Irvan Ardhi Nugroho, Kepala Inspektor PT Inspeksi Mobil Jogja mengatakan mobil diesel yang biasa menggunakan Bio Solar cenderung kondisinya kurang baik. “Memakai Bio Solar tentu bisa menghemat biaya operasional dalam hal membeli BBM, tapi ada risikonya dan membutuhkan perawatan lebih lainnya,” ucap Irvan kepada KOMPAS.com, belum lama ini Sebagai contoh, filter BBM akan lebih cepat kotor. Bila perawatan tak dilakukan lebih intensif, maka bisa menyebabkan performa mesin berkurang dan kerusakan komponen. “Di dalam Bio Solar mengandung sulfur tinggi, jadi bisa menyebabkan endapan di dalam tangki BBM, bila endapan tersebut sampai masuk ke saluran BBM bisa jadi masalah,” ucap Irvan. Sehingga, mobil diesel bekas yang biasa memakai Bio Solar membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk memastikan kondisi tangki BBM bersih, riwayat perawatannya baik dan tercatat. Muchlis, pemilik Bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service Sukoharjo mengatakan penggunaan Bio Solar untuk mobil diesel sebenarnya tidak disarankan. “Kandungan sulfur tinggi bisa sampai 2.500 ppm, sulfur dapat mengotori injektor mesin diesel modern dan sistem penyaringan emisi (catalytic), yang dapat menurunkan kemampuan mesin dan berpotensi menimbulkan kerusakan,” ucap Muchlis, kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Menurut Muchlis, pemakaian Bio Solar pada mobil diesel bisa dilakukan hanya saat dalam kondisi darurat, namun tetap berisiko. SPBU BP kembali menyediakan BBM RON 92 “Bila terpaksa pakai BBM kualitas rendah, sebisa mungkin rajin ganti filter solar, bila anjuran dari bengkel tiap 30.000 Km untuk BBM bagus, maka untuk kualitas rendah bisa tiap 5.000 - 10.000 Km,” ucap Muchlis. Jadi, meski tidak dianjurkan, mobil diesel modern tetap boleh diisi dengan Bio Solar, namun dengan menanggung segala risikonya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang