Radiator coolant merupakan cairan khusus untuk mendinginkan mesin kendaraan. Di dalamnya terdapat kandungan Ethylene Glycol yang berperan untuk mengatur tingkat penguapan dan efektivitas dari sebuah radiator coolant berdasarkan teknologi mesin yang disematkan. Selain itu, coolant juga memiliki aditif anti karat. Secara garis besar, ada 2 jenis aditif anti karat: In-organic Acid Technology (IAT) dan terkini adalah Organic Acid Technology (OAT). Keduanya tak boleh dicampur agar tak memicu overheating. Henry Sada, President Director PT Autochem Industry (AI) mengatakan keandalan radiator coolant tidak hanya dilihat dari kemampuan melepaskan panas mesin tapi juga kemampuan dalam menekan timbulnya karat dalam sirkulasi radiator. “Penggunaan air keran rumahan yang mengandung mineral dan klorin dapat memicu korosi pada logam. Kombinasi panas tinggi dari mesin dan kandungan oksigen dalam air turut mempercepat oksidasi,” ucap Henry dalam keterangan resminya. Berbagai jenis logam seperti tembaga, aluminium, dan baja dalam sistem pendingin bisa bereaksi dengan oksigen yang mengakibatkan korosi atau karat. Radiator yang jarang dibersihkan atau diganti cairannya secara berkala, membuat kerak dan karat menumpuk. Tutup radiator yang rusak juga dapat menyebabkan masuknya oksigen dari luar. Terakhir dan sering terlupakan, cairan radiator memiliki masa pakai. Jika tidak diganti, aditif anti korosi akan hilang sehingga permukaan logam mudah berkarat. Ilustrasi cairan pendingin mesin Aditif Anti Karat IAT IAT merupakan teknologi lama yang bagus untuk proteksi metal, terutama untuk radiator yang terbuat dari bahan tembaga dan kuningan. Aditif IAT bekerja menghambat korosi dengan cara membentuk lapisan pelindung logam pada mesin kendaraan. Hal ini membuat radiator coolant dengan IAT cocok untuk mesin-mesin lawas, dimana jalur pendingin pada kisi-kisi radiator masih berukuran cukup besar. Umumnya, bahan dasar aditif anti karat ini menggunakan bahan anorganik seperti fosfat, nitrit, borat, maupun silikat. Ilustrasi air coolant warna-warni. Namun aditif antikarat anorganik memiliki kelemahan yakni cepat terurai. Alhasil, usia pakai radiator coolant menjadi lebih pendek serta berisiko mempercepat korosi dan penyumbatan karena aditifnya cepat terurai. Karena cepat terurai, maka formulanya juga cepat habis. Sehingga, IAT memiliki usia pakai hanya 2-3 tahun atau 40.000 km, dengan memperhitungkan cuaca dan lingkungan berkendara. Semakin berat dan panas keadaannya, usia pakai radiator coolant jenis ini akan cepat berkurang. Aditif Anti Karat OAT Anti-korosi pada cairan pendingin OAT bekerja dengan membentuk lapisan pelindung mikroskopis pada permukaan logam sistem pendingin mesin. Asam organik di dalamnya bereaksi secara kimiawi, hanya pada area logam yang membutuhkan perlindungan, guna mencegah karat tanpa menggunakan bahan berbahaya. Tanpa unsur anorganik, membuat risiko terjadinya endapan menjadi sangat minim. Unsur organik lebih sulit terurai sehingga usia pakai cairan radiator menjadi lebih lama. Formulanya memiliki umur pakai paling lama yakni selama 5-10 tahun atau 100.000 Km, tergantung juga pada kadar glikol. Keunggulan itu karena aditif organik dalam cairan pendinginnya tidak cepat habis dikonsumsi. OAT tidak meninggalkan jejak berupa endapan atau kerak yang dapat menyumbat saluran radiator. Ramah lingkungan karena berasal dari bahan organik, penggunaannya memberikan dampak positif yaitu minim penguapan yang berarti membuat usia pakai coolant lebih lama. Selain aditif anti korosi, umur radiator coolant tergantung pula pada kadar glycol di dalam formulanya. Semakin tinggi kandungan glycol, semakin panjang umurnya. Ada beberapa hal yang menjadikan OAT sebagai aditif anti karat paling pas untuk mesin modern: OAT melindungi logam hanya saat dan di tempat yang diperlukan sehingga lebih efektif dan tidak cepat habis. Karena tidak mudah terurai, maka tidak terbentuk endapan yang membuat usia pakai lebih lama. Cocok untuk mesin modern dengan radiator berbahan aluminium. Aliran coolant yang cepat mampu mengalir sampai ke celah sempit untuk mengikat dan melepaskan panas mesin. Bebas dari material anorganik sehingga ramah lingkungan. Radiator coolant berbahan aditif IAT dan OAT tidak dapat digabungkan karena: Kedua aditif anti karat akan saling menetralkan. Sistem pendinginan menjadi tanpa perlindungan sehingga lebih mudah terkena korosi. Terjadinya endapan lumpur atau gel akibat reaksi kimia yang justru menghambat sirkulasi di radiator. ”Sebelum mengganti radiator coolant, ada baiknya Anda memilih produk yang tepat. Master Radiator Coolant dirancang agar mampu memberikan performa maksimal pada mesin kendaraan yang beroperasi di iklim tropis,” ucap Henry. Dengan begitu, mesin tidak mudah overheat karena suhu di ruang bakar distabilkan oleh cairan ini. Bahkan, cairan radiator Master didesain untuk berbagai teknologi mesin, seperti katup variabel dan turbo intercooler. Produk unggulan yang ditawarkan terdiri dari 3 varian dengan formula sesuai teknologi dan spesifikasi mesin kendaraan. Ketiganya dibedakan berdasarkan kemasan dan warna isi di dalamnya: Master Radiator Cool, Master Radiator Coolant Premix, dan Master Radiator Coolant Gold. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang