Di tengah harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus mengalami penyesuaian, praktik mencampur bahan bakar di kalangan pengguna kendaraan diesel kadang terjadi. Cara ini kerap dianggap sebagai jalan tengah antara efisiensi biaya dan menjaga kualitas bahan bakar. Sekilas, langkah tersebut terlihat masuk akal: tidak sepenuhnya menggunakan BBM mahal, tetapi juga tidak bergantung pada solar subsidi sepenuhnya. Namun, apakah strategi ini benar-benar menguntungkan, atau justru menyimpan konsekuensi tersendiri? Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa secara teknis, mencampur dua jenis BBM diesel bukanlah hal yang berbahaya bagi mesin. “Secara umum aman. Tetapi sebaiknya tidak dilakukan,” ujar Jayan kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026). Ia menambahkan, hasil dari pencampuran tersebut tidak akan memberikan kualitas terbaik. “Kalau dicampur, kualitasnya berada di antara dua jenis tersebut,” kata dia. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengguna perlu memahami konsekuensi dari keputusan tersebut, terutama terkait performa mesin. “Artinya, performanya juga tidak akan sebaik jika menggunakan bahan bakar yang sesuai spesifikasi secara penuh,” ucap Jayan. SPBU di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro,, Jawa Timur, yang sedang dalam pembinaan selama 30 hari karena menyalurkan BBM tidak sesuai regulasi, Selasa (28/4/2026) Dex yang memiliki angka cetane lebih tinggi dan kandungan sulfur lebih rendah dirancang untuk menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dan efisien. Saat dicampur dengan solar subsidi, karakteristik tersebut ikut menurun. Dampaknya, respons mesin bisa terasa kurang maksimal, efisiensi bahan bakar tidak tercapai sepenuhnya, serta emisi gas buang berpotensi meningkat dibandingkan penggunaan Dex secara murni. Dalam jangka panjang, penggunaan bahan bakar dengan kualitas yang tidak konsisten juga dapat memengaruhi komponen sistem bahan bakar, seperti injektor dan ruang bakar. Meski tidak langsung merusak, kondisi ini bisa mempercepat kebutuhan perawatan. Karena itu, pemilik kendaraan tetap disarankan untuk mengikuti spesifikasi bahan bakar yang direkomendasikan pabrikan agar performa dan umur pakai mesin tetap terjaga. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang