Upaya mendorong elektrifikasi kendaraan di Indonesia tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi besar menghemat anggaran negara. Hal ini diungkap oleh Anindya Novian Bakrie, Komisaris Utama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, yang menyoroti potensi efisiensi besar dari penggunaan bus dan truk listrik. Menurutnya, kendaraan komersial seperti bus dan truk justru memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem kendaraan listrik nasional. Direktur Utama & CEO PT Bakrie & Brothers Tbk, Anindya Novyan Bakrie, saat peresmian pabrik perakitan kendaraan listrik komersial milik VKTR Meski tidak sepopuler mobil penumpang atau sepeda motor listrik, segmen ini dinilai mampu memberikan dampak yang jauh lebih besar. “Kami memilih bus dan truk listrik karena bisa menjadi penonggak untuk tumbuhnya ekosistem industri listrik,” ujar Anindya, dalam siaran langsung Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (9/4/2026). “Memang tidak seseksi motor atau mobil, tapi ini bisa menggerakkan ekosistem yang besar. Jumlah subsidi BBM yang bisa dihemat dengan elektrifikasi bus dan truk ini bisa sampai 5 miliar dolar per tahun, Pak Presiden,” kata dia. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) atau emiten bus listrik milik Grup Bakrie/doc PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Angka tersebut setara dengan sekitar Rp 84 triliun per tahun, potensi penghematan yang sangat signifikan bagi anggaran subsidi energi nasional. Dengan berkurangnya konsumsi bahan bakar fosil di sektor transportasi berat, beban subsidi pemerintah pun dapat ditekan secara bertahap. Tak hanya itu, Anindya juga menyoroti pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Bus listrik VKTR Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang tidak hanya fokus pada kendaraan, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya. “Kami juga sangat senang dengan upaya pemerintah untuk membuat full green mobility; bukan saja kendaraannya yang listrik tapi juga dari sisi charging station-nya. Kami melihat ke depannya semua dapat mendukung program pemerintah untuk mencapai 100 GW tersebut,” ucap dia. Dalam pandangannya, elektrifikasi transportasi menjadi bagian penting dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional. Presiden Prabowo Subianto tampak menaiki bus listrik TransJakarta menjelang peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial berbasis listrik VKTR di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). Indonesia dinilai memiliki modal kuat, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia, untuk mewujudkan hal tersebut. “Bapak Presiden selalu mengajarkan kita bahwa sejarah pembangunan seringkali krisis justru menjadi kesempatan untuk melakukan lompatan besar,” kata Anindya. “Oleh karenanya Vektor, yang dalam bahasa fisika artinya skala dan arah, kami yakin skalanya besar, Indonesia dengan sumber daya alam dan manusianya, dan arahnya adalah untuk kemandirian. Jadi ini adalah momentum Pak Presiden,” ujarnya. Proses perakitan truk listrik buatan VKTR. Pernyataan ini menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik bukan sekadar tren, melainkan peluang strategis untuk melakukan lompatan besar dalam pembangunan industri nasional. Dengan fokus pada kendaraan komersial seperti bus dan truk listrik, langkah ini diyakini mampu mempercepat terbentuknya ekosistem kendaraan listrik yang kuat sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang