Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan selama rata-rata harga minyak dunia berada di bawah 97 dolar AS per barel. Sementara itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi masih dalam tahap kajian dan akan diumumkan setelah prosesnya rampung. Kepastian ini memberi ruang stabilitas dalam jangka pendek. Namun, tekanan dari harga minyak global dan tren kenaikan harga energi di berbagai negara tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai ke depan. Dalam kondisi tersebut, potensi perubahan perilaku konsumsi energi dinilai menjadi hal yang tidak terhindarkan, terutama jika terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Pakar konversi energi dan dosen teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri menilai, dalam skenario kenaikan harga BBM nonsubsidi, peralihan konsumsi ke BBM subsidi sangat mungkin terjadi. “Pasti, akan terjadi peningkatan pendaftaran untuk mendapatkan barcode agar bisa membeli BBM subsidi. Meski ada pembatasan pembelian BBM subsidi 50 liter per hari, tapi batasan tersebut terlalu longgar,” kata Tri kepada Kompas.com, Selasa (7/4/2026). PT Pertamina Patra Niaga memastikan tidak ada perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh jenis BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, mengikuti arahan pemerintah. Rabu (1/4/2026) Menurut dia, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga tetap akan memicu efek berantai terhadap perekonomian, meskipun tidak seluruh masyarakat dapat mengakses BBM subsidi. “Biaya transportasi meningkat, tiket perjalanan semakin mahal, harga barang-barang akan naik. Meskipun yang naik adalah harga BBM nonsubsidi, tetapi pasti akan memunculkan efek tersebut, karena tidak semua orang bisa mendapatkan barcode agar bisa membeli BBM subsidi,” ujarnya. Karena itu, Tri menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah, baik dalam pengaturan distribusi BBM subsidi maupun pengendalian dampak inflasi. Tanpa pengawasan dan kebijakan yang tepat, pergeseran konsumsi serta kenaikan biaya logistik berpotensi menekan daya beli masyarakat secara lebih luas. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang