Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di sejumlah SPBU swasta mulai merangkak naik secara signifikan. Pantauan redaksi, harga solar di SPBU BP dan Vivo kini menyentuh angka Rp 30.890 per liter. Kenaikan tajam ini disinyalir menjadi sinyal kuat bahwa harga jenis BBM lainnya juga akan terkoreksi dalam waktu dekat. Kondisi antrean mobil di SPBU Pertamina Gading Serpong yang terjadi hingga ke jalanan, Selasa (31/3/2026). Kondisi ini tidak terlepas dari memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat-Israel melawan Iran berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Pasalnya, Iran mengancam akan memblokade Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi minyak mentah dunia. Pengendara roda dua saat mengisi bahan bakar subsidi di Di SPBU Pertamina 34.409.01, Jalan Terusan Kopo Katapang No.196, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). Terganggunya pengiriman minyak mentah ini otomatis membuat stok bahan bakar di berbagai negara menipis, yang kemudian memaksa harga eceran di pompa bensin melonjak. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, menjelaskan bahwa fenomena ini murni merupakan hukum ekonomi terkait supply dan demand. Ilustrasi antrean di SPBU Pertamina "Kalau kebetulan suplainya berkurang seperti sekarang ini, permintaannya masih tinggi juga, ya pasti harga naik. Di dunia internasional kan kebanyakan kilang nih, itu kan disuplai minyak mentahnya dari Timur Tengah," ujar Yuswidjajanto, kepada Kompas.com, belum lama ini. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Pak Yus ini memaparkan bahwa biaya produksi di kilang otomatis membengkak seiring mahalnya harga bahan baku. Ilustrasi antrean di SPBU Pertamina "Nah, sekarang suplai minyak bumi berkurang, karena terhambat sama perang AS-Israel vs Iran. Otomatis harga minyak bumi tambah mahal. Nah, kalau harga minyak bumi tambah mahal, ya otomatis harga bahan bakar yang dihasilkan dari kilang ya tambah mahal," kata Yuswidjajanto. Kondisi diperparah dengan langkah beberapa negara produsen yang mulai membatasi keran ekspor demi mengamankan cadangan dalam negeri mereka. Pengendara roda dua saat mengisi bahan bakar subsidi di Di SPBU Pertamina 34.409.01, Jalan Terusan Kopo Katapang No.196, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). "Beberapa negara juga khawatir kalau (cadangan) bahan bakarnya habis, karena itu mereka membatasi atau tidak melakukan ekspor (bahan bakar) lagi. Misalnya, China tidak mengekspor lagi," ujar Yuswidjajanto. Langkah proteksionisme ini berdampak langsung pada Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM dari pasar Singapura. "Otomatis kalau China tidak ekspor, misalnya dia suplai salah satunya ke Singapura, berarti harga bahan bakar di Singapura naik juga. Nah, kita membeli dari Singapura, ya harga bahan bakarnya naik juga," kata Yuswidjajanto. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah untuk menentukan kebijakan harga di dalam negeri, apakah akan melakukan penyesuaian atau menambah beban subsidi. "Nah, tinggal pemerintah mau mengikuti kenaikan harga akibat hukum supply dan demand itu, atau mau menahan harga, tidak memberikan subsidi. Bisa jadi juga yang subsidi tidak usah naik, tapi yang non-subsidi naik, untuk memberikan subsidi ke bahan bakar yang subsidi," ujarnya. Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa harga Pertamax (RON 92) bakal dikerek hingga Rp 17.000 per liter. Melihat gejolak harga minyak mentah dunia yang belum stabil, Yuswidjajanto menilai potensi kenaikan tersebut sangat mungkin terjadi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang