Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite mulai memicu beragam respons dari konsumen kendaraan diesel. Sebagian mulai menghitung ulang biaya operasional, bahkan tak sedikit yang mempertimbangkan beralih ke mobil listrik (electric vehicle/EV). Zara, pengguna Toyota Fortuner VRZ diesel tahun 2016 di Jakarta, mengaku sempat terpikir untuk beralih ke kendaraan listrik. Namun, keputusan itu belum diambil dalam waktu dekat. "Sempat berpikir mau beli mobil listrik BYD Atto 1 atau Geely, tapi mikir lagi, ini benar-benar butuh atau tidak. Dan belum tau juga perkembangan harga BBM untuk mobil diesel seperti apa, jadi wait and see dulu. Untuk sekarang lebih ke menerima, karena kan kalau mau beli mobil lagi harganya tidak murah," ujar Zara, kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026). modifikasi BYD M6 Hal serupa diungkapkan Indra, pemilik Mitsubishi Pajero Dakar 2021 di Pekanbaru, Riau. Ia merasakan langsung lonjakan harga solar non-subsidi yang cukup signifikan dalam waktu singkat. Kendati demikian, dirinya belum ada keinginan untuk beralih ke kendaraan listrik. "Kalau untuk EV saat ini belum ada kepikiran ke arah sana, saya masih mantau dulu. Terakhir saya isi Pertamina Dex masih di harga normal Rp 14.950, dan sekarang sudah jadi Rp 24.950. Cukup buat isi dompet kaget. Jadi saya lebih milih kandangin Pajero di garasi dulu sampai waktu yang belum bisa ditentukan," kata Indra. Kondisi berbeda justru dialami Andre, pengguna Toyota Fortuner VRZ diesel tahun 2021 di Jakarta. Ia mengaku sudah mengantisipasi potensi kenaikan BBM dengan memiliki kendaraan listrik sebagai mobilitas utama. "Mulai agak berat ya, untungnya saya sudah prepare EV. Biasanya mobil di pakai sesuai tanggal pelat mobil (genap), akan jarang digunakan sekarang. Lebih ke full EV sehari-hari. BYD M6 ini memang sengaja dibeli karena antisipasi hal seperti ini juga, selain sebagai genset berjalan apabila ada apa-apa, karena semua sudah dengan teknologi dan butuh listrik jadi ketika ada kondisi darurat," ujar Andre. Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM belum sepenuhnya mendorong konsumen untuk langsung beralih ke mobil listrik. Sebagian masih bersikap wait and see, mempertimbangkan kebutuhan, harga kendaraan, hingga infrastruktur pendukung EV yang dinilai belum merata. Di sisi lain, konsumen yang sudah lebih dulu memiliki EV justru merasa lebih siap menghadapi fluktuasi harga energi, menjadikan kendaraan listrik sebagai solusi jangka panjang untuk efisiensi biaya operasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang