Mobilitas masyarakat Jabodetabek hingga saat ini masih didominasi oleh kendaraan bermotor pribadi berbasis BBM. Ketergantungan pada kendaraan bermotor pribadi berbasis BBM menjadi serius ketika terjadi gangguan pasokan BBM, terutama ketika konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berlangsung. Pemerintah pusat telah mengeluarkan beberapa opsi untuk merespons ancaman krisis energi, mulai dari penerapan Work From Home sekali dalam sepekan, pembatasan penjualan BBM bersubsidi dengan sistem kuota per kendaraan, hingga beberapa langkah jangka panjang lainnya seperti adopsi kendaraan listrik dan proyek pengembangan energi baru terbarukan. Rahmad Wandi Putra, Senior Transport Associate ITDP Indonesia mengatakan, meski beragam krisis global telah terjadi dan berdampak ke Indonesia, namun belum juga menggelitik pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan pembangunan transportasi berkelanjutan. "Untuk wilayah perkotaan, langkah yang lebih mendasar seharusnya diarahkan pada penguatan transportasi berkelanjutan meliputi fasilitas berjalan kaki, bersepeda dan transportasi publik massal yang disertai penyediaan hunian layak terjangkau di tengah kota," katanya dikutip dari keterangan resmi, Rabu (29/10/2026). Transjakarta Modifikasi Rute 6D Stasiun Tebet-Bundaran Senayan/p Rahmad juga mengatakan, ketangguhan dan kerentanan sistem transportasi publik pernah diuji dua kali dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Ujian yang pertama, saat mati listrik massal melanda Jawa-Bali pada Agustus 2019. Layanan berbasis rel seperti KRL dan MRT langsung lumpuh total karena ketergantungan pada pasokan listrik yang terputus, bahkan aplikasi ojek online tidak dapat berfungsi. Transjakarta kemudian menjadi satu-satunya tulang punggung mobilitas warga Jakarta di tengah krisis luar biasa tersebut. Namun di sisi lain, ketika banjir menerjang Jakarta, MRT dan LRT menjadi opsi mobilitas warga untuk melakukan perjalanan. Dalam skala yang jauh lebih besar yakni pandemi Covid-19 atau pada ujian yang kedua, kebijakan PSBB memaksa hampir seluruh moda transportasi publik memangkas kapasitas dan frekuensi layanan secara drastis. "Di tengah keterbatasan itu, sepeda justru menemukan momentumnya. Dianggap lebih aman karena bersifat individual dan dilakukan di ruang terbuka, penggunaan sepeda melonjak signifikan di berbagai kota," kata Rahmad. Maka dari itu menurut Rahmad, kejadian krisis luar biasa ini sama-sama menunjukkan satu hal, sistem transportasi yang tangguh bukan hanya soal seberapa canggih teknologinya, tetapi seberapa adaptif transportasi tersebut menghadapi krisis yang tidak terduga. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang