— Ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor masih tinggi. Di tengah tekanan anggaran akibat subsidi energi yang terus membengkak, hadirnya inovasi energi alternatif seperti Bobibos dinilai bisa menjadi peluang menuju kemandirian energi nasional. Anggota DPR Komisi VII sekaligus pembina Bobibos, Mulyadi, mengatakan produksi minyak nasional saat ini hanya sekitar 500 ribu barel per hari, sementara kebutuhan domestik mencapai 1,6 juta barel. “Artinya, kita masih harus impor sekitar 1,1 juta barel per hari,” ujarnya di Bogor, Selasa (11/11/2025). Menurut Mulyadi, kondisi itu membuat anggaran negara terus terkuras untuk subsidi dan pembelian BBM dari luar negeri. “Kalau terus impor, capital outflow besar dan subsidi BBM naik terus. Padahal anggaran itu bisa dialihkan ke pendidikan dan kesehatan,” kata Mulyadi. Ia mengapresiasi inovasi energi berbasis jerami seperti Bobibos yang mampu mencapai angka oktan 98,1 dalam uji Lemigas. “Kita tidak sedang bersaing dengan siapa pun, tapi ingin menambah pilihan energi yang lebih bersih dan ekonomis,” ucapnya. Mulyadi menambahkan, inovasi energi lokal seperti Bobibos dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan industri hijau di dalam negeri. Dengan dukungan riset, regulasi, dan investasi yang tepat, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan pada impor energi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.