Booth BYD di GIIAS 2024 Luther mengatakan, hingga saat ini BYD belum bisa memberikan tanggapan resmi terkait wacana insentif lebih besar untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel karena belum ada keputusan resmi dari pemerintah. GULIR UNTUK LANJUT BACA Namun demikian, ia meyakini tujuan utama pemerintah tetap sama, yakni mempercepat transisi energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.“Saya belum bisa memberi tanggapan karena belum ada informasi resmi terkait hal tersebut. Tapi saya percaya tentunya intensi dari pemerintah untuk kita bisa sesegera mungkin mendukung transisi energi, mengurangi subsidi bahan bakar,” ujar Luther di Jakarta, Selasa 12 Mei 2026.Menurut dia, situasi global saat ini membuat ketergantungan terhadap energi fosil menjadi semakin kompleks. Karena itu, kendaraan listrik dianggap sebagai salah satu solusi untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang.“Apalagi dengan uncertainty dan situasi geopolitik sekarang menjadi semakin kompleks untuk tetap bergantung pada energi fosil,” katanya.Ia menjelaskan, BYD melihat seluruh teknologi baterai kendaraan listrik memiliki tujuan yang sama dalam mendukung transisi energi. Baik baterai berbasis nikel maupun lithium ferro phosphate (LFP), keduanya dinilai sama-sama berkontribusi terhadap pengembangan kendaraan elektrifikasi.“Walaupun nikel, walaupun LFP itu dua-duanya sama-sama mendukung niat baik pemerintah tersebut,” ujar Luther.Karena itu, BYD menyerahkan sepenuhnya keputusan terkait arah kebijakan insentif kepada pemerintah. Perusahaan juga belum berencana mengubah strategi teknologi baterainya meski nantinya ada kemungkinan insentif lebih besar diberikan kepada baterai berbasis nikel.“Strategi BYD itu strategi jangka panjang. Kami melihat policy itu adalah salah satu dinamika market,” katanya.Menurut dia, kebijakan pemerintah memang memiliki peran besar dalam mempercepat pertumbuhan kendaraan listrik. Ia menyebut dukungan regulasi menjadi salah satu faktor utama meningkatnya penjualan kendaraan elektrifikasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.“Kami memang selalu refer back kepada negara-negara di mana kami telah cukup sukses untuk berkontribusi dalam transisi energi tersebut, di mana memang secara policy itu memberikan satu ruang untuk teknologi baru ini dalam masa development untuk didukung terus,” ujarnya.Ia juga mengakui tren kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut disebut tidak lepas dari dukungan kebijakan fiskal maupun non-fiskal yang diberikan pemerintah selama ini.“Dan kami juga sangat bersyukur dengan konsistensi serta stabilitas dari policy yang ada saat ini sehingga bisa terefleksi dengan hasil penjualan dan share dari kendaraan elektrifikasi di Indonesia,” kata Luther. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Ia menyebut, rencana tambahan dukungan dari pemerintah juga menjadi tanda bahwa kebijakan kendaraan listrik yang sudah berjalan saat ini dinilai efektif dalam mendorong transisi energi nasional.“Yang penting memang kita harus jaga momentumnya. Dan kepercayaan konsumen itu kan sudah tinggi sekarang dalam menggunakan kendaraan elektrifikasi,” ujarnya