Ada satu fenomena unik yang belakangan terjadi di industri otomotif nasional: penjualan kendaraan listrik naik, namun kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) justru tinggi. Mengapa demikian?Menurut data yang dihimpun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), populasi kendaraan listrik hingga Februari 2026 sudah tembus 358 ribuan unit. Bahkan, dalam setahun terakhir, kenaikannya sudah tembus 140 ribuan dan didominasi kendaraan roda dua. Menariknya, meski minat masyarakat Indonesia dalam membeli kendaraan listrik meningkat pesat, namun beban impor BBM masih sangat tinggi. Menurut catatan yang sama, sejak 2020 hingga 2025, anggaran yang dikeluarkan negara untuk impor bahan bakar terus meningkat. Tahun lalu saja, pengeluaran negara untuk impor bensin dan Solar tembus US$ 21,5 miliar.INDEF Foto: Septian Farhan Nurhuda/detik.comKepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho menjelaskan, ada sejumlah alasan yang membuat impor BBM tetap tinggi meski kendaraan listrik makin populer. Menurutnya, banyak konsumen yang membeli mobil-motor listrik sebagai kendaraan kedua."Inilah yang sebetulnya menjadi pekerjaan rumah untuk menghadirkan adopsi EV secara menyeluruh. Bukan menjadi opsi kedua lagi, melainkan opsi pertama," ujar Andry di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/4)."Menurut temuan kami, kalau kita bisa menekan pembelian di awal, at least selisihnya nggak jauh dari mobil BBM. Saya rasa masyarakat tertarik pindah ke sana. Namun beberapa orang di Jakarta telah menjadikan EV sebagai kendaraan pertama," tambahnya.Selain itu, kata Andry, harus ada peran lembaga pembiayaan agar konsumen lebih mudah membeli kendaraan listrik di Indonesia. Sehingga, makin banyak konsumen pemula atau first buyer yang membeli mobil dan motor nonemisi tersebut."Bagaimana kita bisa menghadirkan proses financing yang kompetitif untuk EV ini. Jadi ini yang menurut saya menjadi pintu utamanya. Konsumen sulit kalau beli kendaraan listrik secara cash, mereka harus mencicil. Tapi karena risikonya yang dianggap besar oleh perbankan, maka bunga kreditnya besar," tuturnya.Di tempat yang sama, Trois Dilisusendi selaku Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM secara tak langsung membenarkan apa yang disampaikan Andry Satrio. Menurut dia, masih ada sejumlah kalangan yang khawatir membeli mobil-motor listrik sebagai kendaraan pertama."Misalnya, kalau kata ojol, Pak nggak kuat nanjak, khawatir banjir atau baterai meledak. Jadi kualitas harus baik dan aftersales-nya bagaimana nih? Nah itu yang harus ditingkatkan," kata Trois.