Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi pekerjaan rumah besar di sektor energi. Di tengah dinamika geopolitik global dan potensi gangguan pasokan minyak mentah, kondisi ini memunculkan pertanyaan serius, seberapa siap Indonesia menghadapi krisis energi jika rantai pasok terganggu? Menurut pakar konversi energi dan dosen teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ketergantungan tersebut tidak lepas dari keterbatasan kapasitas produksi dalam negeri, baik dari sisi hulu maupun hilir. "Kilang kita settingnya lebih cocok mengolah minyak dari Timur Tengah, jadi kalau pasokan minyak mentah berkurang maka pasti produksinya berkurang. Sudah kapasitasnya lebih rendah dari kebutuhan, produksinya berkurang juga, sehingga solusinya adalah impor. Sementara kita harus bersaing dengan negara-negara lain untuk mendapatkan BBM," kata Tri kepada Kompas.com, Sabtu (4/4/2026). Ia menjelaskan, desain kilang yang spesifik terhadap jenis minyak tertentu membuat fleksibilitas Indonesia dalam mengolah berbagai jenis crude oil menjadi terbatas. Ketika pasokan dari wilayah utama seperti Timur Tengah terganggu, kilang dalam negeri tidak serta-merta bisa beralih ke sumber lain tanpa penyesuaian teknis. Di sisi lain, kapasitas kilang nasional saat ini memang belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi BBM yang terus meningkat. Akibatnya, impor menjadi solusi jangka pendek yang terus diandalkan untuk menjaga ketersediaan energi di dalam negeri. Namun, ketergantungan ini membawa konsekuensi serius, terutama saat terjadi gejolak global. Kilang Pertamina Cilacap, Jawa Tengah. Dalam situasi krisis, Indonesia harus bersaing dengan negara lain untuk mendapatkan pasokan BBM, yang berpotensi memicu lonjakan harga dan risiko keterlambatan distribusi. Lebih jauh, kondisi ini juga memperlihatkan adanya kerentanan struktural dalam sistem energi nasional. Ketika satu titik dalam rantai pasok terganggu, dampaknya bisa langsung terasa hingga ke tingkat konsumen, mulai dari kenaikan harga hingga potensi kelangkaan. Tri menekankan pentingnya langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan tersebut, mulai dari peningkatan kapasitas kilang, diversifikasi sumber energi, hingga penguatan produksi dalam negeri. Tanpa pembenahan yang menyeluruh, risiko terhadap krisis energi global akan terus membayangi Indonesia. Dalam jangka panjang, upaya transisi energi dan pengembangan energi alternatif dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mengurangi tekanan terhadap kebutuhan impor BBM yang selama ini menjadi titik lemah utama. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang