Kecelakaan bukan hanya merugikan diri sendiri atau orang lain, tapi juga keluarga. Artinya kecelakaan bisa berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Rio Octaviano, Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia mengatakan, dalam kondisi ini, satu kejadian kecelakaan saja dapat mengganggu stabilitas ekonomi keluarga. "Ketika korban adalah tulang punggung keluarga, luka ringan dapat menyebabkan kehilangan pendapatan sekitar Rp 1 juta. Luka berat dapat menghilangkan pendapatan hingga Rp 8–11 juta. Dalam kasus korban meninggal dunia, keluarga berpotensi kehilangan sekitar Rp 40 juta dalam satu tahun pertama akibat terputusnya sumber nafkah," kata Rio dalam keterangan resmi, Rabu (25/3/2026). Ilustrasi kecelakaan sepeda motor. Seorang pelajar SMP tewas kecelakaan di Jalan Nasional Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi pada Senin (2/3/2026). Dia menghantam pohon usai tak bisa menguasai kendaraannya lantaran ngebut. Lebih jauh, Rio menjelaskan, hasil analisis RSA menunjukkan kecelakaan lalu lintas juga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Diperkirakan sekitar 37.000 hingga 66.000 orang dapat terdorong ke dalam kemiskinan setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dan dalam skenario yang lebih luas dapat mendekati 140.000 orang. Walau kata Rio, estimasi ini merupakan pendekatan berbasis analisis sosial-ekonomi dan bukan angka resmi statistik. "Temuan ini menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas bukan hanya persoalan transportasi, melainkan telah menjadi isu ekonomi dan sosial nasional," katanya. Ilustrasi tabrakan beruntun. "Hal ini sejalan dengan temuan global bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama kehilangan produktivitas dan beban ekonomi di negara berkembang (WHO, 2018)," ujar Rio. Karena itu, Rio mengatakan, pemerintah perlu didorong untuk meningkatkan alokasi anggaran secara signifikan dalam penanganan keselamatan jalan. "RSA menilai bahwa investasi pada keselamatan jalan merupakan langkah strategis yang dapat menekan angka fatalitas sekaligus mengurangi beban ekonomi negara," katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang