Teori kecelakaan lalu lintas bikin miskin bukan sekadar bualan. Ada hitung-hitungan ekonomi mengapa teori itu bisa mengancam masyarakat.Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia Rio Octaviano mengatakan, kecelakaan lalu lintas menyebabkan beban ekonomi lebih dari Rp 3 triliun. Berdasarkan data Korlantas Polri tahun 2025 yang diolah oleh Road Safety Association (RSA), tercatat 158.508 kejadian kecelakaan lalu lintas dengan 24.296 korban meninggal dunia, 19.311 luka berat, dan 195.271 luka ringan ."Selain korban jiwa, kecelakaan lalu lintas juga menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan. Kerugian material tercatat sebesar Rp 314 miliar. Namun setelah dilakukan pengolahan data secara komprehensif oleh RSA, termasuk perhitungan biaya pemakaman, biaya pengobatan, serta kehilangan produktivitas, total beban ekonomi kecelakaan lalu lintas di Indonesia diperkirakan melampaui Rp 3 triliun per tahun. Pendekatan ini mengacu pada praktik perhitungan dampak ekonomi kecelakaan secara internasional (World Bank, 2017; OECD, 2015)," kata Rio dalam keterangan tertulisnya. Biaya langsung yang ditanggung masyarakat mencakup pemakaman korban meninggal sekitar Rp 243 miliar, biaya pengobatan luka berat sekitar Rp 386 miliar, serta luka ringan sekitar Rp 293 miliar, dengan total lebih dari Rp 1,2 triliun."Di luar itu, kecelakaan lalu lintas menyebabkan hilangnya sekitar 2,8 juta hari kerja atau lebih dari 22 juta jam kerja, yang jika dikonversikan ke nilai ekonomi setara dengan potensi kehilangan produksi sekitar Rp 1,8 triliun. Estimasi ini menggunakan pendekatan makro berbasis produktivitas nasional dan perlu dipahami sebagai potensi ekonomi (BPS, 2026)," sebut Rio.Dampak kecelakaan lalu lintas terhadap perekonomian tidak hanya dirasakan pada tingkat nasional. Bahkan, dampak itu dapat menghantam langsung kondisi ekonomi rumah tangga."Dengan rata-rata pendapatan pekerja sekitar Rp 3,33 juta per bulan, sementara garis kemiskinan rumah tangga berada di kisaran Rp 3 juta per bulan, ruang aman ekonomi masyarakat sangat tipis (BPS, 2026). Dalam kondisi ini, satu kejadian kecelakaan saja dapat mengganggu stabilitas ekonomi keluarga. Ketika korban adalah tulang punggung keluarga, luka ringan dapat menyebabkan kehilangan pendapatan sekitar Rp 1 juta. Luka berat dapat menghilangkan pendapatan hingga Rp 8-11 juta. Dalam kasus korban meninggal dunia, keluarga berpotensi kehilangan sekitar Rp 40 juta dalam satu tahun pertama akibat terputusnya sumber nafkah," beber Rio.Hasil analisis RSA menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas juga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Diperkirakan sekitar 37 ribu hingga 66 ribu orang dapat terdorong ke dalam kemiskinan setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dan dalam skenario yang lebih luas dapat mendekati 140 ribu orang. "Estimasi ini merupakan pendekatan berbasis analisis sosial-ekonomi dan bukan angka resmi statistik (BPS, 2026)," katanya.Temuan ini, lanjut Rio, menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas bukan hanya persoalan transportasi, melainkan telah menjadi isu ekonomi dan sosial nasional. Hal ini sejalan dengan temuan global bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama kehilangan produktivitas dan beban ekonomi di negara berkembang (WHO, 2018)."Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk meningkatkan alokasi anggaran secara signifikan dalam penanganan keselamatan jalan. RSA menilai bahwa investasi pada keselamatan jalan merupakan langkah strategis yang dapat menekan angka fatalitas sekaligus mengurangi beban ekonomi negara," sebutnya.Menurut Rio, penguatan anggaran perlu difokuskan pada perbaikan infrastruktur jalan yang berorientasi keselamatan, penerapan standar keselamatan kendaraan, khususnya pada sepeda motor yang mendominasi lebih dari 212 ribu kendaraan dalam kecelakaan, peningkatan layanan darurat dan trauma center, serta penguatan sistem data dan pengawasan berbasis teknologi."Tanpa intervensi yang sistemik, Indonesia akan terus menghadapi siklus berulang berupa tingginya angka kematian, kerugian ekonomi triliunan rupiah, serta meningkatnya kerentanan sosial masyarakat. Road Safety Association menegaskan bahwa keselamatan jalan adalah investasi untuk melindungi nyawa dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan dukungan kebijakan dan anggaran yang tepat, angka fatalitas dapat ditekan secara signifikan," pungkasnya.