Aktivitas berkendara di jalan raya selalu memiliki risiko, terlebih saat mobilitas meningkat seperti pada periode arus mudik dan arus balik Lebaran. Kondisi lalu lintas yang padat membuat potensi kecelakaan juga ikut meningkat apabila tidak diimbangi dengan kewaspadaan. Kecelakaan lalu lintas sendiri masih menjadi salah satu ancaman serius bagi pengguna jalan di Indonesia, dengan tingkat kejadian yang beragam, mulai dari insiden ringan hingga kecelakaan fatal. Meski berbagai imbauan telah disampaikan, termasuk terkait pembatasan mobilitas pada momen tertentu, masih ada masyarakat yang tetap melakukan perjalanan. Karena itu, penting bagi setiap pengendara untuk selalu mengutamakan keselamatan selama di jalan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko kecelakaan. Rutin cek kendaraan Perawatan kendaraan menjadi hal dasar yang tidak boleh diabaikan. Pastikan kondisi kendaraan selalu prima sebelum digunakan, mulai dari memeriksa aki, radiator, timing belt, hingga oli mesin. Selain pengecekan harian, pemilik kendaraan juga disarankan melakukan servis berkala di bengkel agar performa kendaraan tetap optimal. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. akan membebaskan tarif tol di ruas tol Padaleunyi dan Cipularang bagi pengguna jalan yang terkena pengalihan lalu lintas (lalin) saat arus balik Lebaran 2025. Jaga kecepatan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengingatkan agar pengemudi tidak terburu-buru saat berkendara. “Jangan tergesa-gesa dalam berkendara. Selalu jaga jarak aman dan jaga kecepatan sesuai dengan rambu-rambu yang berlaku di jalan,” ujar Sony, kepada Kompas.com belum lama ini. Jika dalam kondisi mengejar waktu, maka pengemudi tetap harus mengutamakan keselamatan. Gunakan lampu sein saat berpindah jalur atau berbelok, serta perhatikan kaca spion untuk memantau kondisi lalu lintas di belakang. Gunakan sabuk pengaman Sabuk pengaman atau safety belt kerap dianggap sepele oleh sebagian pengemudi. Padahal, perangkat ini memiliki peran penting dalam mengurangi risiko cedera saat terjadi kecelakaan. Penggunaan sabuk pengaman seharusnya bukan sekadar untuk menghindari sanksi, melainkan menjadi kebutuhan utama demi keselamatan diri selama berkendara. Hindari penggunaan telepon genggam Konsentrasi menjadi kunci utama dalam berkendara. Penggunaan telepon genggam saat mengemudi dapat meningkatkan risiko kecelakaan secara signifikan. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan bahwa pengemudi yang menggunakan ponsel memiliki risiko lebih besar dibandingkan pengemudi dalam pengaruh alkohol. “Pengendara yang menggunakan telepon genggam memiliki ancaman lebih besar dari pada pengendara yang mabuk atau dalam pengaruh alkohol. Mereka sama saja dengan berkendara dengan mata tertutup, sedangkan pengendara mabuk masih melihat jalan walau responnya lebih lambat,” ujar Jusri. Jika ada kebutuhan mendesak untuk menggunakan ponsel, maka sebaiknya pengemudi menepi terlebih dahulu agar tidak membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, diharapkan risiko kecelakaan lalu lintas dapat ditekan, terutama saat kondisi jalan sedang padat. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang